Siang ini, Mince berhasil mengendap-endap ke ruang redaksi. Bukan tanpa maksud, Mince ke sini sebab ada misi khusus untuk menemui Mbak Editor. Pasalnya, kemarin Mince habis ditanya oleh salah seorang followers @javalitera. Begini pertanyaannya:

“Mince, apa, sih, bedanya naskah fiksi dan nonfiksi?”

Nah, loh! Mince susah deh jawabnya. Setahu Mince, fiksi itu ya novel, cerpen, dan sejenisnya. Sedangkan, nonfiksi itu catatan harian Mince. Jiaah… abaikan!

Daripada Mince menjerumuskan orang lain dengan jawaban ngawur Mince itu, mending Mince tanya ke Mbak Editor saja deh. Dan inilah hasil perbincangan kami.

1. Hay, Mbak Editor. Lagi ngedit naskah apa nih? #BasaBasiMince

Matematika.

2. Oo… pantes dari tadi kayak bau hangus. Hihihi…

Hem. Udah, langsung saja, Ce. Ada perlu apa?

Ekspresi Mbak Editor kayak gini via http://srirahayucatatan.blogspot.com/
Ekspresi Mbak Editor kayak gini via http://srirahayucatatan.blogspot.com/

3. Wew… Mbak Editor gitu amat sih. Kebanyakan baca rumus pasti yaa… ups! Iyaaa… iya, maaf. Mince ke sini mau tanya-tanya nih. Mbak Editor kan kerjaannya ngurusi naskah terus tuh, emang definisi dari naskah itu sendiri apaan sih?

Kalau menurut Library and Information Science, naskah itu ya tulisan tangan yang menjadi arsip atau koleksi perpustakaan, misalnya naskah-naskah sastra lama dan lain-lain. Namun dalam konteks lain, penggunaan istilah “naskah” pada masa kini tidak semata untuk sesuatu yang ditulis tangan. Dalam penerbitan buku misalnya, naskah merupakan hasil karangan seseorang yang belum diterbitkan. Dalam perfilman, naskah berarti teks/skenario yang digunakan oleh para pemain drama dalam pembuatan film atau pertunjukan. Dalam istilah berita, naskah adalah laporan mengenai suatu hal atau peristiwa yang ditulis oleh seorang wartawan untuk dimuat di media massa atau elektronik.

4. Ha? Sudah, segitu saja?

Iya, kalau kamu tanya apa itu naskah maka jawabannya ya cuma itu. Tapi kalau mau dijabarkan lagi, sebenarnya karangan itu bisa dibedakan menjadi beberapa jenis. Jika dilihat dari bentuknya, dapat dibedakan menjadi narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Sedangkan bila dilihat dari sifatnya, maka akan ada karangan fiksi, nonfiksi, puisi, dan naskah drama.

5. Nah, itu dia… itu dia yang Mince mau tanyakan. Apa yang dimaksud dengan naskah nonfiksi dan fiksi itu?

Kenapa nggak to the point dari tadi, Ce? -_-

6. Ya… ya… terserah Mbak Editor sajalah.

Oke, kita mulai dari nonfiksi. Nonfiksi adalah sebuah karangan yang disampaikan secara faktual dan disertai bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Karangan nonfiksi dapat berupa sebuah karya ilmiah maupun nonilmiah, dengan menggunakan bahasa yang denotatif. Ilmiah maksudnya bukan lantas menggunakan bahasa-bahasa sok intelek seperti “statusisasi kemakmuran”, “labil ekonomi”, dan “konspirasi hati” ya. Hahaha 😀

Duh, maafkan jadi melantur. Abaikan yang tadi. Intinya, dalam karangan nonfiksi, bahasa yang digunakan harus bersifat lugas, jelas, dan juga harus memperhatikan kaidah kebahasaan yang ada. Dalam karangan nonfiksi, aspek estetika bukan sesuatu yang dianggap penting, yang lebih penting adalah kejelasan maknanya. Jadi, nggak usah pakai bahasa yang lebay dan mengharu biru, justru gunakanlah kalimat-kalimat yang efektif dan tidak ambigu sehingga pesannya dapat mudah tersampaikan kepada pembaca.

7. Kalau Mince bikin tulisan yang berupa tips-tips gitu, termasuk dalam karangan nonfiksi nggak, tuh?

Karena sifatnya faktual, maka artikel yang berisi tips-tips seperti itu termasuk ke dalam karangan nonfiksi. Kecuali kalau kamu membuat tips cara mengendarai sapu terbang milik Harry Potter. 😀

8. Haha… bisa saja Mbak Editor ini. Terus, contoh karangan nonfiksi lainnya apa?

Beberapa contoh karangan nonfiksi lainnya antara lain laporan penelitian, biografi, artikel, esai, ensiklopedia, buku-buku referensi, dan lain-lain. Buku-buku referensi itu juga bisa banyak sekali lho jenisnya, cari sendiri ya. ^_^v

9. Oke, sip, paham sekarang. Ya sudah, lanjut saja ke fiksi. Hehe…

Fiksi adalah bentuk karangan yang isinya berorientasi pada imajinasi. Berbeda dengan nonfiksi yang tidak mengutamakan estetika dan menggunakan bahasa yang jelas dan lugas, dalam fiksi justru karangan dikemas dengan bahasa yang estetis atau indah, bahkan kadang menggunakan simbol-simbol atau metafora. Fiksi juga menuntut adanya daya imajinasi yang tinggi, tak seperti nonfiksi yang terbatas pada fakta dan aturan-aturan tertentu.

Sebuah karangan fiksi harus memiliki efek atau kesan tertentu dalam batin dan pikiran pembaca, sehingga pembaca akan tertarik untuk melanjutkan membaca. Kesan-kesan yang ditimbulkan tersebut dapat berupa rasa gembira, sedih, tragis, terharu, terinspirasi, terenyuh, takut, dan lain-lain.

Jadi, jika ingin menulis fiksi maka perbanyaklah perbendaharaan kosakata serta latihlah kreativitas untuk mendramatisasi sebuah adegan dengan kata-kata. Yang termasuk dalam karya fiksi antara lain adalah cerpen, novel, roman, novelete, dan cerita rekaan lainnya.

10. Mbak Editor bilang fiksi itu cerita rekaan yang berorientasi pada imajinasi. Lantas kalau ada cerpen atau novel yang terinspirasi dari kisah nyata gimana tuh?

Oh, itu. Jadi begini, karya fiksi itu kan memiliki dua unsur pembangun, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang ada di dalam karya fiksi itu sendiri, meliputi tema, tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, alur, dan lain-lain. Sedangkan, unsur ekstrinsik adalah unsur di luar karya yang secara tidak langsung ikut memengaruhi karya itu sendiri.

Jadi ketika seorang pengarang terinspirasi dari kisah nyata untuk membuat sebuah cerita, maka cerita tersebut tetap disebut karya fiksi, sebab ada unsur-unsur instrinsik di dalamnya berupa tema, plot/alur cerita  tokoh, penokohan, sudut pandang, latar/setting, dan amanat yang merupakan hasil dari imajinasi pengarang itu sendiri. Masih tetap ada daya imajinasinya, kan?

11. Aeeh… bukan itu maksudnya…

Lha, jadi gimana maksud pertanyaanmu? Sudah terlanjur ngomong panjang lebar juga. 😦

12. Gini, lho. Kan ada tuh novel atau cerita pendek yang diangkat dari kisah nyata. Novelnya Andrea Hirata misalnya, yang Tetralogi Laskar Pelangi. Bukan hanya terinspirasi, tapi tema, alur, dan bahkan nama-nama tokohnya kan juga sama tuh? Seperti menceritakan kembali pengalaman hidupnya. Kenapa itu disebut fiksi hayo?

Owalah, itu. Yah, walaupun ada unsur true story-nya, tapi novel itu tentu “bumbu penyedapnya” lebih banyak. Nanti pembaca juga bisa merasakan sendiri hal itu. Coba saja kamu baca buku biografi dan baca novel tersebut. Keduanya sama-sama menceritakan kisah hidup seseorang, tapi apa efek yang kamu dapat ketika membaca dua karya tersebut? Beda, kan?

Selain gaya bahasanya yang mengharu biru, dalam novel itu juga ada unsur dramatisasinya. Tetap ada daya imajinasi dari pengarangnya. Maka tetap disebut sebagai karya fiksi.

Lain halnya dengan biografi. Meskipun sama-sama menceritakan perjalanan hidup seseorang, saat membaca biografi tidak akan menimbulkan efek-efek tertentu bagi pembaca. Membuat kita terinspirasi, mungkin bisa jadi. Namun tak ada efek haru biru atau bahkan nangis bombay seperti ketika kita membaca novel. Sebab biografi hanya memaparkan fakta-fakta yang ada, tanpa adanya unsur dramatisasi dan imajinasi. Oleh sebab itulah dia disebut nonfiksi.

13. Hemm… oke, oke. Nah, tadi Mbak Editor menyebutkan unsur-unsur fiksi. Ada intrinsik, ada pula ekstrinsik. Bisa dijelaskan apa saja itu?

Bisa… bisa, apa sih yang nggak buat kamu. 🙂 Tapi besok saja ya, kamu kembali lagi ke sini. Saya mau kerja dulu, nih lihat deadline sudah berjejer rapi. 😦

14. Waduh! Baiklah kalau begitu, Mbak Editor. Terima kasih obrolannya.

Iya, sama-sama, Mince, yang kece. Hehe…

Setelah pamit sama Mbak Editor, akhirnya Mince melipir cantik dari ruang redaksi dan kembali gelar lapak di timeline @javalitera. Jangan khawatir, besok Mince akan coba mengendap-endap ke ruangan itu lagi, buat menagih janji Mbak Editor, huahaha… *ketawa evil*

Iklan