1Ngeliat judulnya aja udah bikin aku garuk-garuk kepala. Heran, kok bisa ya pocong bunting? Kok bisa sih pocong ngebuntingin pocong lain, sedangkan tangannya aja sedakep mana bisa dia buka lawonnya. Lagipula bagaimana cara ngelahirinnya nanti? Bayinya nanti bentuknya kayak apa yaa? Seribu satu pertanyaan berlomba-lomba nyembul di kepala, tanda minta jawaban. Sampai akhirnya aku disodorin novel Pocong Bunting ini. Iya, ini beneran novel. Dan novel ini beneran punya alur cerita yang jelas. Aku punya buku bacaan bergenre sama, tapi isinya cuma lelucon penulisnya doang. Sama lucunya, tapi alur ceritanya lompat-lompat kaya pocong. Apa emang sengaja dibikin begitu yaa biar menjiwai karakter yang digambarkan. Halah mulai ngaco nih….

Selama aku baca novel ini, berbagai mimik muka dari takut, sedih, nelangsa, galau, ceria, ketawa, dan bahasa tubuh dari tepok jidat, garuk-garuk kepala, mukul guling, sampai kebelet pipis saking nanggungnya karena lagi seru-serunya baca bisa berkolaborasi jadi satu. Kalau boleh jujur sih, alasan terbesar aku nahan kencing karena takut. Hah, takut??? Pasti sekarang kalian deh yang gantian garuk-garuk kepala. Gimana nggak takut coba, walaupun pocong di novel ini nggak bisa divisualisasikan lewat gambar, tapi pendeskripsiannya tuh hemmm… jempol banget. Tampang pocong yang gosong, mata merah, berdarah-darah, belepotan tanah, belatungan, sampai bau bacinnya segala ditulis. Berasa penulisnya udah akrab banget sama dunia gaib perpocongan. Eits… jangan salah, walaupun tampang mereka nggak ada kece-kecenya, tapi tuh pocong semuanya pada rumpi, rempong, ababil, agak lupita-an, dan otaknya agak lambreta ambrojini. Haaahhh, pasti semua pada penasaran, kan? Aku ceritain sedikit deh, nggak tahan nih mulut mau ngerumpi.

Permasalahan dimulai sejak dua sejoli Romano dan Jumiet memutuskan untuk bunuh diri nenggak AO kedaluwarsa karena percintaan mereka nggak disetujuin oleh kedua belah pihak, karena abangnya Jumiet dan babenya Romano musuh bebuyutan. Mereka berdua tewas, dan semua keluarga pun menyesalkan kejadian ini. Akhirnya mereka dikuburkan dengan liang lahat yang berdampingan, bakalan jadi satu liang sebab makam ambrol dan belum diurug karena warga udah pada lari saat liat penampakan pocong lain. Akhirnya percintaan dan pernikahan mereka berlanjut di alam gaib. Sampai akhirnya Jumiet bunting, nggak ngerti tuh gimana bisa begitu. Tapi sayang kebahagiaan mereka direnggut paksa oleh Bos Jujum, si bos KomPoc (komunitas pocong), dia maksa Romano ngawinin dia juga biar hamil kaya Jumiet. Herannya, ada lagi salah kawin si pocong sama si Genderuwo. Permusuhan antara geng pocong sama geng genderuwo. Haduh, macem-macem deh. Baca sendiri deh novelnya, biar nggak penasaran. Kalau aku tulis di sini semua kepanjangannn, bukan sinopsis malah jadi novel juga entar.

Oke, selamat membaca. Dan rasakan andrenalin kalian membuncah, meluap-luap, melebur, melayang, selama membaca novel Pocong Bunting ini.

Desya, First Reader

Iklan