Pic: mujahidah18.files.wordpress.com
Pic: mujahidah18.files.wordpress.com

Oleh: Emirfan

Nama beliau Sukardi. Usia beliau hampir tujuh puluh tahun. Aku baru tahu nama dan umur beliau dari berita harian lokal tadi pagi. Jasadnya ditemukan warga sekitar pukul empat Subuh. Diberitakan bahwa beliau tampaknya terjatuh telungkup. Muka beliau penuh darah dan luka. Banyak yang mengenal lelaki tuna netra ini, termasuk aku.

Aku pertama kali melihatnya lima tahun yang lalu. Saat aku pertama kali datang untuk sekolah di kota ini. Setahuku, tiap malam ia berjalan dengan tongkat yang dihiasi kaleng, sehingga tongkat itu akan berbunyi saat membantunya berjalan. Aku sampai hafal bunyi kalengnya. Beliau satu-satunya di kota ini. Bapak tua ini selalu memakai baju gelap. Seperti baju silat. Celana panjangnya sudah terlalu pendek. Warnanya yang kelam juga sudah pudar. Yang tidak ketinggalan adalah kopiah hitamnya.

Anehnya beliau dapat berjalan dapat sampai jauh. Aku sering melihat beliau di jalan yang berbeda dan itu sangat jauh, menurutku. Aku begitu iba ketika melihatnya. Dengan mata tertutup karena buta, beliau sendirian melangkah mengelilingi kota ini. Entah apa yang beliau cari. Uang? Aku tidak pernah menangkapnya meminta atau diberi uang. Lalu apa? Aku sempat ingin mencari tahu. Namun aku bukan pengintai yang baik. Aku hanya melihat bapak itu dari atas sepeda motorku yang butut. Lalu motorku terlalu cepat juga dibanding jalannya yang lambat. Akhirnya aku pun meninggalkan bapak itu. Ya, seperti itu sajalah sepengetahuanku. Aku belum pernah melakukan pencarian informasi selain hal tersebut.

Suatu malam hatiku begitu gundah. Aku sangat merindukan kekasihku yang sudah satu bulan meninggalkanku. Aku baru tahu ternyata aku benar-benar mencintainya. Dini hari itu aku pergi keluar dengan motor tuaku. Aku tak tahu mau pergi ke mana malam itu. Dua jam berlalu, aku masih di atas motorku, berkeliling kota. Aku terus membayangkan kekasihku yang jauh di kota lain. Kata pujangga, aku benar-benar hampa tanpanya. Ternyata semakin lama semakin buyar saja konsentrasiku. Rasanyabegitu gelap malam itu. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku tidak merasa mengendarai sepeda motor, seperti sedang tidur saja.

Di Jalan Jenderal Soedirman, aku menabrak bapak tua buta yang tadi aku ceritakan. Ya. Pak Sukardi. Kulihat kanan-kiri. Tidak ada satu orang pun di sana. Kutancap gas. Aku bergegas pulang.

Esok paginya, saat kubaca koran di kantor. Mataku menangkap sebuah headline, “Orang Buta Ditemukan Tewas”. Pada subheadline tertulis “Diduga Terjatuh Karena Kelaparan”.

Siang ini aku menuliskan ceritanya. Tak ada yang tahu bahwa aku yang menabrak orang buta itu, selain aku, Tuhan, dan Anda pembaca cerita pendek yang cuma rekaan ini.

Yogyakarta, 2 September 2008

#Eh, cerpen ini ditulis oleh Pimred-nya Javalitera loh. Kalau mau kenalan sama beliau, mampir aja ke sini nih >> Emirfan 😀

Iklan