kue abilOleh: Kak Emirfan

Hari ini Abil, anak pertama saya, ulang tahun yang kedua. Mungkin, dia belum mengerti arti ulang tahun. Sebenarnya saya juga belum paham-paham benar sih. Tapi, memang biasanya kita nggak perlu tahu arti sesuatu untuk melakukan. Hwehehe.

Tahun lalu, ulang tahunnya tidak dibuat spesial karena kami pikir masih terlalu kecil. Alasan kami tidak membuat spesial hari ulang tahunnya didukung oleh anggapan sebagian orang yang katanya ketika orangtua membuat pesta ulang tahun anaknya yang masih kecil dan belum paham, maka orangtuanyalah yang ingin pesta tersebut ada, orangtuanyalah yang kepengin dandan keren. Syukurlah ada anggapan seperti itu, meski di dalam hati tidak terlalu setuju. Tapi, Ayah dan Bunda jangan mengurungkan niatnya loh kalau sudah berencana membuatkan pesta buat si kecil. Sanggah saja anggapan tersebut kalau masa kecil anak kita itu tidak bisa diulang kembali. Kenangan saat pesta ulang tahun akan diingat si kecil saat dia besar dan sebagainya. Sanggah-menyanggah itu masalah kecil kok.

Tahun ini, ulang tahun keduanya, masih di bulan September, Abil dapat kado. Lebih cepat 28 hari sih. Adiknya lahir di tanggal 2 September. Untuk adiknya inilah, energi kami (orangtua) tersita. Maka sepertinya, ulang tahun keduanya akan seperti biasa saja. Seperti hari-hari lainnya, seperti biasa. Tetap dan selalu bahagia. Sehari-hari tendang-tendangan bola. Main air sebelum mandi. Minta ikut saat bapaknya mau berangkat kerja. Orang yang disebut terakhir itu tidak bisa menolak atau membiarkan anaknya menangis. Muter-muterlah mereka lihat sapi dan peliharaan lain milik penduduk di sekitar tempat tinggal. Sudah itu, mampir ke warung membeli es krim atau jajanan lain yang sebenarnya nggak dibolehin ibunya kalau terlalu banyak.

Habis itu, pulang ke rumah. Abil menikmati jajanannya, dialihkan ke ibunya, sedang bapaknya menuntun motornya dan menyalakan mesinnya agak jauh dari rumah. Kabur berangkat kerja. Kadang-kadang, di jalan, saya merasa pengin juga didadahin sama anak dan istri seperti bapak-bapak lainnya. Di lain hari, saya menggumamkan lagu “And the hardest of this is leaving you”. Bahwa perpisahan memang menyedihkan, maka dadah-dadahan itu saya rasa nggak perlu. Terbukti loh: Abil nangis. Selalu nangis. Selalu ingin ikut.

Diceritakan ibunya, setelah saya pergi berangkat kerja, Abil nggak nyariin loh. Harusnya dia nyari. Harusnya dia nangis pas tahu bapaknya nggak ngajak dia. Harusnya dia merasa ditipu oleh es krim dan jajajan dari warung. Kesimpulan saya, sebenarnya dia tahu bapaknya sudah berangkat dan dia nggak diajak. Hanya saja, dia tidak mau dan sepakat untuk tidak dadah-dadahan. Hahaha. Sore harinya, saya datang. Dia menyambut dan kami tertawa bersama.

Tersebutlah seorang Tante Bunda. Tetangga kami yang dekat dengan Abil, yang menyebut Abil anak ketiganya. Abil memanggilnya Bunda. Tadi siang, saya dikabari ibunya Abil kalau Tante Bunda ngirim kue ulang tahun. Wuiih. Terima kasih banyak atas perhatiannya ya, Mbak Puspa Ardhiaz Egawanty. Ibunya Abil (mungkin bersama Tante Bunda) berencana menyuruh Abil meniup lilin bersama Mas Rava dan Mas Abad (anak-anaknya Tante Bunda dan Om Dumas Mahar) mungkin beserta anak-anak tetangga yang lain (Abil kalo udah gede baca tulisan ini ya dan berterima kasihlah).

“Acaranya biasa aja lah. Gelar tikar di carport, beli jajanan anak-anak. Kalau ada anak tetangga lewat disuruh gabung. Gaya Rock n’ Roll aja,” tulis Minda Dewi Mokhamad lewat whatsapp.

Oke… Selamat ulang tahun ya, Abil, eh Mas Abil. Berbahagialah dengan biasa wahai Abil yang udah biasa bahagia.

Om dan Tante Javalitera juga mau mengucapkan Selamat Ulang Tahun ahh… buat Mas Abil. Semoga makin pintar dan lucu. ^^

#Comot dari Facebook-nya Kak Emirfan, hehehe

Iklan