Pic: www.anneahira.com
Pic: http://www.anneahira.com

Oleh: Eista Swaesti

Aku seorang penari. Darah seni sudah mengalir di nadiku sejak usiaku masih kanak. Musik sudah menjadi teman dalam jiwa. Bagiku menari adalah hidup. Dalam kehidupan kita menarikan kewajiban dan hak-hak kita untuk dapat terus bertahan. Menari adalah kebahagiaan. Bahagia melihat orang-orang dapat tersenyum dan ikut menarikan tangannya mengikuti irama gending. Aku menciptakan tarianku sendiri. Itu kulakukan agar masyarakat yang menonton tidak bosan.

Ya. Aku memang penari keliling. Bersama rombongan kesenian yang dipimpin Pak Broto, bapak kandungku, mengembara dari satu desa ke desa lain. Tidak jarang kami mendapat tawaran untuk tampil pada acara-acara peresmian gedung yang baru saja selesai dibangun, atau tampil pada acara penyambutan para pejabat yang pulang dari tugas dinasnya.

Begitulah kehidupanku. Semenjak ibu meninggal, akulah yang menggatikannya menjadi penari. Tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri, karena dari kecil aku memang sering diajak untuk tampil di mana-mana. Aku ikut merasakan bagaimana rasanya hidup di jalan. Aku ikut merasakan bagaimana kerasnya menjalani hidup. Betapa susahnya mencari sekeping uang untuk hidup sehari-hari. Dulu aku sering merasa iri dengan teman-teman sebayaku. Mereka bisa enak dan santai dalam menikmati masa kanak-kanaknya, sementara aku harus berjuang dulu untuk dapat merasakan hidup seperti mereka. Dan sekarang, di saat usiaku menginjak dua puluh empat tahun, aku semakin menyadari bahwa hidup semakin sulit. Orang-orang harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan fasilitas hidup yang layak. Apalagi orang kecil dan miskin sepertiku, Bapak, dan orang-orang di sekitar kami. Kami hanya hidup dari petinggi atau pejabat atau orang-orang yang memanggil kami untuk tampil pada acara mereka. Ah, betapa susahnya menjadi orang miskin.

“Ranti! Kau jangan terus melamun. Kita harus siap-siap berlatih kembali,” tegur Bapak.

“Kita mau pentas di mana, Pak?” tanyaku.

“Tidak di mana-mana. Hanya di desa kita saja,“ jawab Bapak. Aku cuma mengangguk.

“Besok, rencananya makam di ujung desa akan dibongkar dan didirikan pabrik, kita diminta pentas untuk mengisi acara peletakan batu pertama,” lanjut Bapak ketika tak mendengar responsku. Aku terkejut mendengar penjelasan Bapak.

“Pak, itu kan makam keramat. Makam para leluhur desa kita. Makam Mbah Somo! Warga desa kita tidak akan setuju dengan rencana itu. Makam itu sudah dianggap suci dan bersejarah oleh warga desa kita karena itu makam para leluhur mereka. Bukankah Bapak juga sering berziarah di makam itu? Bukankah makam orangtua Bapak juga di situ?” aku mencoba untuk menyadarkan Bapak.

“Tapi makam itu sudah tidak ada gunanya. Tiap hari kita berziarah, tetapi tidak mendatangkan keuntungan buat kita. Apa dengan berziarah kita bisa mendapatkan uang? Dengan didirikannya pabrik, kita dan warga desa bisa mendapatkan penghasilan yang menjajikan. Kau juga tidak usah berkeliling untuk menari. Hanya bekerja di pabrik dan kau mendapatkan uang. Lagipula kalau kita tampil pada acara peletakan batu pertama itu, kita akan mendapatkan uang banyak. Para pejabat itu sudah menjanjikan uang yang tidak sedikit untuk kita dan mereka juga janji akan memberi Bapak jabatan yang tinggi setelah pabrik itu jadi. Kesempatan ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja,” kata Bapak berapi-api.

Aku terdiam. Kulihat mata Bapak penuh dengan gelimang uang yang akan dia peroleh. Kemudian tawanya meledak membayangkan kekayaan yang akan ia rengkuh. Bapak sudah terbius kekuasaan. Aku, bukannya tidak senang akan perubahan kehidupan yang sejak dulu kuimpikan, tetapi kalau harus mengorbankan kepentingan warga desa untuk kepentingan diri pribadi, itu terlalu egois. Bertahun-tahun makam itu dijaga dan dirawat. Warga desa percaya jika berziarah di makam itu rejeki akan terus mengalir lancar. Berziarah adalah tanda kehormatan bagi leluhur desa yang sudah meninggal. Sekarang makam itu akan dibongkar untuk dijadikan pabrik. Apa yang akan terjadi dengan kehidupan desa mereka kelak?

Tiba-tiba terdengar ramai suara orang berteriak-teriak menyerukan protes. Aku segera berlari ke depan melihat apa yang terjadi. Kulihat segerombolan orang berjalan menuju rumah kepala desa dengan membawa alat-alat pukul dan menyerukan beberapa protes. Dugaanku tidak keliru. Warga desa pasti akan menyerukan ketidaksetujuan mereka akan rencana pembangunan pabrik di atas makam Mbah Somo.

Aku terdiam dan terpaku. Ingin melakukan sesuatu untuk membela mereka, tapi aku sadar aku hanya seorang penari. Orang kecil seperti mereka. Yang kalah akan kekuasaan dan kedudukan. Berapa pun jumlah yang kami kerahkan untuk mencegah pembangunan pabrik, pasti bisa dikalahkan. Ya. Kami kalah dalam hal kekuasaan.

“Tenang Bapak-bapak, Ibu-ibu. Sebenarnya makam ini tidak dibongkar, tetapi dipindahkan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu tetap dapat berziarah di makam Mbah Somo. Adapun pabrik itu dibangun, demi kepentingan Bapak-bapak dan Ibu-ibu juga. Bapak-bapak dan Ibu-ibu tidak perlu lagi mengharapkan penghasilan yang tidak tentu. Bapak-bapak dan Ibu-ibu bisa bekerja di pabrik dan mendapatkan gaji tetap tiap bulannya. Kami janji akan mensejahterakan kehidupan Bapak-bapak dan Ibu-ibu setelah pabrik selesai dibangun,” jelas Pak Kepala Desa menenangkan warganya. Pernyataan yang menurutku hanya untuk menenteramkan hati warga desa. Rupanya Pak Kepala Desa juga sudah terbius dengan obat yang sama. Kekuasaan dan uang.

***

Jadilah makam itu dibongkar. Makam Mbah Somo dipindahkan di tanah yang masih tersisa. Entah dipindah betul atau tidak, aku dan seluruh warga desa tidak tahu. Yang aku tahu, Bapak sangat giat melatih anak buahnya agar dapat tampil maksimal dan tidak terkesan ndeso. Sekali lagi, aku hanya seorang penari yang tidak bisa menolak takdirnya. Aku mematuhi perintah Bapak, dengan hati tak rela.

Malam ini, aku menari. Aku menari di atas makam leluhurku. Leluhur yang bertahun-tahun kuhormati. Leluhur yang menjadikanku untuk tetap tegar menjalani kehidupan. Namun, lama-kelamaan geding yang seharusnya mengiringi tarianku, berubah menjadi suara tangis yang menyayat, suara jerit tangis orang-orang miskin, tangis anak-anak dengan perut membusung kelaparan. Tarianku terhenti. Aku menutup telingaku. Namun, suara-suara itu tetap saja mengiringiku. Lalu aku berlari meninggalkan tempat itu. Tak kupedulikan Bapak dan orang-orang mengejarku, aku terus berlari menuju tempat yang penuh kedamaiaan dan jauh dari suara tangis yang makin menyayat. Tempat yang membuatku bisa membagi tarianku kepada orang-orang yang tak haus akan kekuasaan dan uang. Tempat yang memberiku arti kehidupan yang sesungguhnya. Tempat yang masih peduli akan tanah leluhur.

Aku seorang penari. Namun aku menari bukan untuk membanggakan kekuasaan. Aku menari untuk memberikan kebahagiaan kepada korban kekuasaan.

***

Yogyakarta, 21 April 2010

 

*Cerpen ini pernah menjadi Juara II Lomba penulisan CerMa (Cerita Remaja) tahun 2010 di Koran Minggu Pagi Yogyakarta.

 

#Btw, ini cerpennya Mbak Editor Javalitera lho. Mau kenalan? Mampir saja ke sini >> Eista Swaesti

Iklan