Pic: www.husain.my.id
Pic: http://www.husain.my.id

Oleh:

“Nampaknya masih seperti itu saja ya? Atau masih seperti kemarin? Atau kemarinnya? Atau juga minggu kemarin? Atau… bulan kemarin? Atau tahun kemarin? Mungkin juga tidak berubah? Ah, ini tidak bakal berubah pastinya.”

“Memang apa yang terjadi padamu, Teman?”

“Ah, kamu jangan membuatku bercerita panjang lebar seperti masalahku kemarin, Jon.”

“Tak apalah, Ron. Aku sudah terbiasa dengan cerita panjang yang runtut itu. Memang apa yang terjadi, Ron?”

“Sebenarnya aku tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun, Jon. Sudahlah, tak usah kuceritakan padamu. Ini hanya buang-buang waktu.”

“Benar begitu, Ron?”

“Ya. Lagi pula siang hari ini cerah sekali. Ditambah dengan suasana kafe Mak Rum yang sejuk seperti biasa, kita mengobrol dan memesan kopi bersama. Sama seperti dulu ya, Jon? Tidak ada yang berubah.”

“Kau bebicara apa lagi sekarang, Ron? Aku makin tidak bisa mengerti jalan pikiranmu sekarang.”

“Kau tidak merasakannya, Jon. Apa kau tidak peka dengan lingkunganmu?”

“Maksudmu?” Bertanya penasaran sambil mengernyitkan dahi.

“Seperti ini, Jon. Apa kau menyadari artinya perubahan?” Ron balik bertanya.

“Ya, aku mengerti, Ron. Sebuah keadaan yang tidak seperti biasa bukan?”

“Bisa dibilang seperti itu.”

“Lalu apa yang kamu rasakan, Ron? Apakah tidak ada yang berubah?” tanya Jon makin penasaran dengan jalan pikiran Ron.

“Ya, betul sekali. Terkadang. Ah, bukan terkadang, malah sering aku rasakan. Suasana yang terjadi tidak ada perubahan sampai sekarang, Jon. Mulai dari kehidupan masyarakat di negara ini yang begitu-begitu saja, sampai pemerintah kita yang begitu-begitu saja menanggapi penyakit masyarakat yang sudah megap-megap mencari asap untuk dapurnya,” jawab Ron panjang.

“Haduuhhh… Ron, kau terlalu memikirkan hal tidak bisa kau tanggung sendiri. Itu hanya membuatmu pusing dan tidak ada penyelesaian, Ron. Percuma memikirkan nasib negara ini.”

“Hei, Jon. Jangan berbicara seperti itu. Kau tidak tahu apa yang masyarakat rasakan dengan megap-megap mencari asap di dapurnya.”

“Aku tidak peduli dengan itu, Ron. Lebih penting untuk memikirkan diriku agar sehat. Toh kita akan sama-sama mati akhirnya. Sudahlah, Ron, itu tidak penting.”

“Jon, kau memang tidak mengerti artinya perubahan ya?”

“Haha… sekarang yang harusnya bilang perubahan itu aku, Ron. Ubahlah jalan pikiran kolotmu itu. Manusia modern tidak akan berpikir sepertimu di masa seperti ini. Sudahlah.”

Ron terdiam setelah mendengar kalimat panjang dari Jon. Mata Ron yang hampir menangis dan gemeretak bibirnya berkata pendek.

“Jon….”

“Iya, Ron….”

“KAU BINATANG, JON!”

***

Siang hari yang cerah dengan embusan angin menyentuh kulit. Suasana di kafe Mak Rum masih sama, dan jalan pikiran mereka pun masih sama.

Iklan