dscf4241
Book & Music. MocoSik.

Oleh: Tatik Giyantini, Administrasi Javalitera

Selasa 14 Februari 2017 ada yang berbeda di ruang kerja kami. Ehhh tunggu, jangan bayangin ruang kerja kami berubah jadi pink dipenuhi bunga dan banyak cokelat ya, enggak, bukan itu. Nggak ada hubungannya sama sekali. Sebenarnya yang berbeda bukan ruangannya sih, tapi kerjanya. Dari pagi sampai siang kami di kantor seperti biasa, nah saat jam istirahat kami ramai-ramai pergi ke JEC. Yak, hari itu ada “MocoSik”, sebuah acara yang menggabungkan musik dan buku. Kebetulan Selasa kemarin adalah hari terakhir. Diajakin ke acara kayak gitu pas jam kerja rasanya seperti nemuin kolam renang yang airnya sedingin es di padang pasir luas, haha. Ya gimana nggak? Kita kan, biasanya kerja di dalam ruangan, duduk di kursi masing-masing. Tiba-tiba diajakin kerja keluar, ketemu hal baru, nge-refresh pikiran, dan saya sih mikirnya sekalian jalan-jalan (kok, saya jadi ngerasa kayak anak kecil yang baru pertama kali diajak ke tempat bermain gini ya, tolong dimaklumi bagian itu tadi, nggak bermaksud norak hahaha).

Saat kami semua udah siap mau berangkat, ada satu kendala. Eh, bukan kendala sih sebenernya (entahlah saya belum nemu kata yang tepat untuk menyebutnya). Jadi gini, tim Javalitera itu terdiri dari 2 laki-laki dan 4 wanita. Nah, 2 di antara  wanita tersebut badannya mungil. Sedangkan yang 2 lagi badannya kayak kebanyakan gizi (if you know what i mean). Kita rencana pergi pakai 1 mobil, Mas Pemred sebagai pengendali mesin dan Mas Designer Cover menemani duduk di depan. Kami berempat duduk di belakang. Di sinilah kendala (dan sampai sini masih belum nemuin kata yang tepat)-nya terjadi. Nggak muat, huaaaa… sampai si Mbak Layouter maksa, ngajakin saya naik motor aja dan biarkan Duo Mbak Editor itu yang ikut mobil. Yah, kami merasa kamilah penyebab mobilnya nggak muat. Udah tahu, kan, berarti siapa yang badannya semacam kebanyakan gizi? Iya, saya. Eh, kamu juga lho Mbak Layouter! Welk! Tapi, setelah kami diskusi panjang lebar tinggi dan luas serta berusaha sekuat mungkin memecahkan masalah ini, akhirnya muat yeaaayy. Solusinya ya kami (tim kebanyakan gizi) duduk di pinggir kanan dan kiri, sedangkan Duo Mbak Editor di tengah-tengah kami. Mereka aman? Alhamdulillah, sampai kantor lagi dengan selamat dan mereka masih baik-baik saja walaupun kegencet dikit, hahaha.

img-20170214-wa0004
Saya mah kalem, duduk anteng, nyempil aja di pojokan 😀

Kembali ke topik aja ya (padahal sebenernya saya aja bingung, topik ceritaku apaan??). Jadilah kami berangkat ke JEC, ngeeeeeng, bremm bremm, telolet telolet…. Tapi nggak langsung ke TKP ding, kami diajakin makan soto dulu di seberang JEC. Sotonya enak, gratis pula, dibayarin Mas Pemred kita, makasih Mas, kapan-kapan lagi yaa… *ngarep* Setelah tenaga terisi, barulah kami menuju ke tujuan yang sesungguhnya. Hal pertama yang kami lakukan? Miriplah sama kebanyakan orang, foto-foto dulu, hahaha. Iya, walaupun usia kami sudah jauh di atas batas “remaja”, kami masih berjiwa muda, kok. Merdeka! Puas foto-foto dan mungkin juga kami udah ngerasa malu (karena cuma kami yang asyik foto-foto di sana) masuklah kami. Liat-liat buku, baca-baca, pengen ini itu tapi nggak jadi beli, dan ikut diskusi bersama beberapa penulis kece Indonesia. Yang saya paling inget, satu-satunya penulis perempuan yang waktu itu hadir, namanya Mbak Okky. Kenapa bisa paling inget sama Mbak Okky? Soalnya tiap ngeliat beliau kayak ngeliat Mbak Atiqah Hasiholan. Apanya yang mirip? Saya juga nggak tahu, pokoknya mirip gitu aja. Gayanya kayaknya, raut mukanya juga. Oh iya, 2 penulis lainnya namanya Mas Mahfud dan Pak Hernowo, barusan saya dikasih tahu sama Mbak Editor. Ketahuan ya, kemarin saya nggak dengerin diskusinya??

Dengerin sebenernya, serius. Tapi, memang konsentrasi saya terganggu. Lha, sebentar-sebentar ada pengumuman yang suaranya kenceng bangett-ngett dari lapak sebelah–jadi selain acara ini, di samping, di gedung yang sama, juga ada acara pameran komputer kalau nggak salah–yang ngasih tahu tentang mau ada pemadaman listrik, ngucapin selamat datang, ngingetin hati-hati jaga barang bawaan, sampai ngingetin ada banyak stan makanan di sana, disebutin pula ada apa aja. Yang terakhir ini yang sukses bikin konsentrasi saya pecah berkeping-keping, hiks.

img-20170214-wa0002
Kenapa di foto ini saya nggak keliatan? Biar nggak ketauan kalau makanku banyak. :p

Jam 3 lewat sedikit kami memutuskan untuk kembali ke kantor. Di jalan kami diingetin lagi sama Mas Pemred buat nulis tentang apa aja yang kita dapetin di acara “MocoSik” tadi. Yup, sebelum berangkat memang kita udah diwanti-wanti buat nulis sesuatu kalau nanti ke JEC. Mau dimasukin ke blog Javalitera, katanya. Itu bagian dari kerjaan. Bukankah kerja di sebuah kantor penerbit buku bukan hanya tentang menerima naskah, merombak, dan mengirim ke distributor untuk diteruskan ke toko buku? Kegiatan kayak gitu tadi juga penting lho, cmiiiwwiiwww *pasang emot senyum*

Nulis? Buat temen-temen di ruangan ini mungkin hal yang gampang. Ya iyalah, kan sebagian tim Javalitera juga penulis-penulis kece. Nggak percaya? Bisa dicek kok buku-buku mereka di toko buku kesayangan Anda (Udah tak bantuin promosi ya Mas, Mbak, jangan lupa persenan besok pas akhir bulan). Tapi saya?? Mau nulis apa bingung. Dulu sempet sih hobi nulis pas SMP, pun nulis di buku harian yang isinya gitulah. Tahu sendiri kan curhatan anak sekolah yang udah mulai gede? Kalau nggak bahagia karena bisa ngeliat si dia, cerita tentang temen-temen di sekolah, pasti galau segalau-galaunya. Nah, daripada saya bingung kelamaan mending saya juga nulis catatan harian kayak zaman SMP dulu. Masih bisalah ternyata dikit-dikit, masih ada bakat alay. Buktinya tulisan ini jadi, haha. Padahal yang dimaksud Mas Pemred buat nulis itu, nulis tentang apa aja ilmu yang kita dapetin selama acara di JEC kemarin. Kalau mau tahu bagian itu, nanti baca aja ya tulisan teman-teman saya yang lain. Anggap saja saya nulis behind the scene- nya.

Alhamdulillah, selesai juga tulisan ini, ya Allah. Apa pun hasilnya yang penting saya udah usaha dan nyoba buat nulis ya. Walaupun hasilnya jauh banget dari yang dimaksud Mas Pemred (beneran, ini saya ngerasa nostalgia zaman SD, nulis kegiatan sehari-hariku di rumah. Yang cerita dari bangun tidur sampai tidur lagi kayak gitu). Seperti salah satu quote yang saya baca di pameran kemarin, dari Pak Kuntowijoyo, salah satu sastrawan Indonesia. Begini kalimatnya, “Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu Menulis, Menulis, Menulis”. Jadi, sudah ya teman-teman, tugas menulis tentang kegiatan Selasa 14 Februari 2017 saya akhiri dengan sangat lega dan bahagia. Eh satu lagi, kenapa tulisan ini saya beri judul “Ker-Ja-Lan-Jalan Javalitera”? Karena saya merasa kegiatan kita kemarin itu semacam kerja sambil jalan-jalan. Dan kenapa saya nggak pernah sebut nama? Nggak papa sih, sengaja. Kalau mau kenal cari tahu sendiri, main ke ruangan Javalitera juga boleh, jangan lupa bawa martabak telor. :p

Iklan