7a0bbc01-e7ed-4597-abe0-64f231513213

Oleh: Emirfan TM, Pemred Javalitera

Entah ada angin apa aku kepikiran buat ngajakin semua temen-temen Javalitera ngunjungin festival Buku dan Musik, Mocosik di JEC. Ide tersebut muncul setelah sehari sebelumnya, aku dateng (sendirian) ke sana. Saat aku datang, di atas panggung yang megah (untuk ukuran pameran buku), Tompi sedang “ngobrol” dengan penonton diiringi nada keyboard yang dimainkan Glenn Fredly. Sesekali mereka membuat lelucon. Tak lama berselang, mereka mem-pliswelkam-kan Najwa Shihab, yang kemudian diikuti Rudy Gunawan. Yang disebut terakhir, aku kenal jauh sebelum aku kerja di penerbitan, tentu saja melalui karyanya Mata yang Malas.

Aku hanya mengikuti bagian awal talk show mereka karena aku juga ingin menikmati hal-hal lain di sana, seperti jumlah penonton yang wuiihh. Aku berdiri menontonnya. Itu artinya tidak ada kursi yang tersisa. Lalu, pameran bukunya. Proses kerja samanya dengan penerbit, yang ternyata kudapat info kalau penerbit tidak membayar sewa stand, cukup bagi keuntungan sekian persen, sedang untuk buku tiket…. (Eh ini boleh di-share di khalayak ramai gak ya? Nunggu izin dulu deh ya ceritanya hehe.) Kemudian, tentang layout dan desain-desain di sana deh.

Ketika mereka ber-talk show, sedikit yang kunikmati karena hanya sebentar. Salah satunya adalah perkenalan Najwa dan Rudy dengan buku di masa kecilnya. Seperti Rudy, semasa kecil saya suka komik. Sedang, Najwa kecil katanya menyewakan buku koleksinya ke tetangganya. Kedua hal itu seperti mengantarkan ingatanku ke masa kecil. Kecilnya sama tapi kok gedenya beda nasib ya? Hahahahaha

Kalau disuruh gambarin acara tersebut dengan satu kata, mungkin aku akan bilang “Kekinian.” Menurutku, Mocosik ini ya pameran buku, dan yang namanya pameran buku intinya ya jualan buku. Tapi, jualan buku di Mocosik bisa dibilang jualan dengan konsep baru, nggak biasa, keluar dari kotak, nggak ngebosenin. Aku pengin temen-temen sekantorku juga menikmatinya. Untuk itulah aku “mewajibkan” mereka untuk datang, kemudian ngasih tugas untuk corat-coret di blog javalitera.com tentang Mocosik.

Hari terakhir acara Mocosik, kami sekantor datang ke JEC. Kisahnya sudah diceritakan tuh dengan berbagai sudut pandang. Hehehe.

Sudah lama gak nulis, aku kok kayaknya gak puas dengan tulisanku ini. Tapi yang namanya tugas, harus dikerjakan. Gak papa ya. Hahaha.

Terakhir deh. Lepas dari untung atau tidaknya penerbit yang ikut serta di sana, Mocosik membuat buku menjadi lebih kekinian. Buku fisik ternyata masih akan panjang umur. Lha iya, masa foto bareng buku buat postingan instagram pake e-book?