Cari

Redaksi Javalitera

Gudangnya Literatur Inspiratif

Kategori

Cerpen

[Cerpen] Masih Saja Seperti Itu

Pic: www.husain.my.id
Pic: http://www.husain.my.id

Oleh:

“Nampaknya masih seperti itu saja ya? Atau masih seperti kemarin? Atau kemarinnya? Atau juga minggu kemarin? Atau… bulan kemarin? Atau tahun kemarin? Mungkin juga tidak berubah? Ah, ini tidak bakal berubah pastinya.”

“Memang apa yang terjadi padamu, Teman?”

“Ah, kamu jangan membuatku bercerita panjang lebar seperti masalahku kemarin, Jon.”

“Tak apalah, Ron. Aku sudah terbiasa dengan cerita panjang yang runtut itu. Memang apa yang terjadi, Ron?”

“Sebenarnya aku tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun, Jon. Sudahlah, tak usah kuceritakan padamu. Ini hanya buang-buang waktu.”

“Benar begitu, Ron?”

“Ya. Lagi pula siang hari ini cerah sekali. Ditambah dengan suasana kafe Mak Rum yang sejuk seperti biasa, kita mengobrol dan memesan kopi bersama. Sama seperti dulu ya, Jon? Tidak ada yang berubah.”

“Kau bebicara apa lagi sekarang, Ron? Aku makin tidak bisa mengerti jalan pikiranmu sekarang.”

“Kau tidak merasakannya, Jon. Apa kau tidak peka dengan lingkunganmu?”

“Maksudmu?” Bertanya penasaran sambil mengernyitkan dahi.

“Seperti ini, Jon. Apa kau menyadari artinya perubahan?” Ron balik bertanya.

“Ya, aku mengerti, Ron. Sebuah keadaan yang tidak seperti biasa bukan?”

“Bisa dibilang seperti itu.”

“Lalu apa yang kamu rasakan, Ron? Apakah tidak ada yang berubah?” tanya Jon makin penasaran dengan jalan pikiran Ron.

“Ya, betul sekali. Terkadang. Ah, bukan terkadang, malah sering aku rasakan. Suasana yang terjadi tidak ada perubahan sampai sekarang, Jon. Mulai dari kehidupan masyarakat di negara ini yang begitu-begitu saja, sampai pemerintah kita yang begitu-begitu saja menanggapi penyakit masyarakat yang sudah megap-megap mencari asap untuk dapurnya,” jawab Ron panjang.

“Haduuhhh… Ron, kau terlalu memikirkan hal tidak bisa kau tanggung sendiri. Itu hanya membuatmu pusing dan tidak ada penyelesaian, Ron. Percuma memikirkan nasib negara ini.”

“Hei, Jon. Jangan berbicara seperti itu. Kau tidak tahu apa yang masyarakat rasakan dengan megap-megap mencari asap di dapurnya.”

“Aku tidak peduli dengan itu, Ron. Lebih penting untuk memikirkan diriku agar sehat. Toh kita akan sama-sama mati akhirnya. Sudahlah, Ron, itu tidak penting.”

“Jon, kau memang tidak mengerti artinya perubahan ya?”

“Haha… sekarang yang harusnya bilang perubahan itu aku, Ron. Ubahlah jalan pikiran kolotmu itu. Manusia modern tidak akan berpikir sepertimu di masa seperti ini. Sudahlah.”

Ron terdiam setelah mendengar kalimat panjang dari Jon. Mata Ron yang hampir menangis dan gemeretak bibirnya berkata pendek.

“Jon….”

“Iya, Ron….”

“KAU BINATANG, JON!”

***

Siang hari yang cerah dengan embusan angin menyentuh kulit. Suasana di kafe Mak Rum masih sama, dan jalan pikiran mereka pun masih sama.

Iklan

[Cerpen] Perempuan Itu, Kartini

Pic: babytherock.blogspot.com
Pic: babytherock.blogspot.com

Oleh: Eista Swaesti

Perempuan itu kini berbaring tak berdaya di antara selang-selang oksigen dan infus. Jiwanya berdiri bingung di antara kematian dan kehidupan. Hatinya termenung menimbang-nimbang, sudah cukupkah perjalanannya di dunia atau ia harus berjuang lebih lama di hidup yang tak pernah ia keluhkan. Perempuan itu. Meski lemah, matanya menyiratkan kehidupan. Memberi isyarat bahwa perjalanannya belum cukup menuntaskan kebahagiaan. Terutama bagi ketiga anaknya, ketiga buah hati yang ia besarkan dengan cucuran peluh keikhlasan.

Malam itu, ia pulang membawa keringat dingin di sekujur tubuhnya. Sepeda yang setiap hari menemaninya berjualan jenang candil, disandarkannya di tembok depan rumah dengan serampangan. Diketuknya pintu, lemas. Pintu terbuka dan ia telah terkulai di pelukan anaknya. Lalu suara sirene membelah keheningan malam. Satu per satu, tangis pun terpecah.

*

Kusempatkan menjenguk dan menyuntikkan sedikit senyum dan semangat. Masih terlihat guratan-guratan sakit bekas operasi pada perutnya ketika kucium tangannya dan kubisikkan kesembuhan pada telinganya. Air mataku hampir jatuh dibuatnya. Kuputuskan keluar dari kamar dan terduduk di koridor rumah sakit.

Perempuan itu, yang selalu kulihat tiap sore menjajakan dagangannya melewati kampung-kampung, yang selalu kulihat tersenyum ramah saat melayani pembeli, yang selalu bercerita tentang hidup padaku (karena aku termasuk langganan tetapnya), dan bercerita pula bagaimana ia harus berjuang sendiri mencari penghidupan yang layak bagi ketiga buah hatinya.

Dulu, perempuan itu ditinggalkan suaminya. Laki-laki yang diharapnya menjadi penopang yang kuat bagi keluarga kecilnya, laki-laki yang diharapkannya bisa menjadi penyulut semangat ketika tiba-tiba ia menyerah pada hidup. Namun, semuanya hanya tinggal harap. Laki-laki itu lebih memilih tinggal dengan majikannya yang sekarang sudah menjadi istrinya di negeri seberang.  Lalu, tinggallah ia sendiri.

Hidupnya drastis berubah. Dengan sisa uang peninggalan suaminya, ia berusaha untuk bangkit. Dengan keahliannya membuat jenang candil, ia memulai hidupnya di jalan-jalan menjajakan jenang. Perjalanan yang ditempuhnya tak hanya satu dua kilo, tetapi berkilo-kilo ia jalani dengan menggenjot sepeda tuanya. Tak jarang jenang yang dibawanya laku. Pelanggannya pun sering berganti-ganti. Ia berjualan di sore hari dan pulang malam. Pagi hari, ia menjadi buruh cuci di tetangga yang tak jauh dari rumahnya. Di rumah, ia juga berusaha untuk menjadi ibu sekaligus bapak bagi anak-anaknya. Sungguh perempuan yang tak kenal kata lelah. Perempuan yang memiliki hati dan raga yang tegar.

Namun sekarang, yang kulihat di mataku, raga itu mulai melemah karena kista berhasil menggerogoti sebagian organ tubuhnya. Sakit yang didera selama ini, tak pernah dirasakannya. Ia berusaha menyembuhkannya dengan semangat dan tekadnya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.  Sekarang, raga itu telah mati. Ia tak mampu lagi melawan sakitnya, meski ia telah berusaha. Sang Kuasa telah meminta rohnya.

Aku menitikkan air mata di pusaranya. Ia banyak memberikan pelajaran bagiku. Bagi kita, perempuan. Menjadi perempuan, bukan berarti menjadi kaum yang terpinggir atau terbelakang. Justru perempuanlah yang seharusnya bisa menjadi pemenang dari laki-laki karena sifat kegigihan dan kesabarannya. Tak gampang tumbang oleh godaan dan tak gampang mundur dalam bertempur. Dan bagiku, ia adalah Kartini. Juga bagi ketiga buah hati yang sangat dicintainya.

***

#Ditulis oleh Mbak Editor Javalitera, Eista Swaesti 😀

[Cerpen] Surat Cinta

Pic: www.contohsuratterbaru.tk
Pic: http://www.contohsuratterbaru.tk

Oleh: Tristanti

: Untuk Ang Riandra, jawaban dari Lelaki Diammu.

Dik, jangan kau membeciku. Meskipun kutahu, wajar bila kau melakukannya. Saat itu aku sungguh tak kuasa ketika cinta datang membawa sekuntum bunga, kemudian menanamnya di hatiku. Dan bunga-bunga itu kian tumbuh bermekaran menyesakkan hati. Bunga-bunga itu bagai candu yang membuatku selalu ingin memetiknya, dan menciumi wanginya, hingga aku terlupa akan sajak-sajak cinta yang senantiasa kau suguhkan di setiap pagi, siang, dan malamku. Hal yang kini kusesali. Gelora yang sesaat dulu kurasakan, tak sebanding dengan penyesalan yang kini harus kutanggung.

Aku bukanlah petualang, seperti yang dulu pernah kau katakan. Aku hanyalah seorang pria yang mudah terbawa rasa. Namun sekejap saja cinta itu akan sirna, karena cinta dengan sendirinya pergi dariku. Mencampakkanku begitu saja. Dan engkau Dik, selalu mampu menghangatkan kembali hatiku yang beku. Kau semikan kembali benih-benih dalam jiwaku.

“Kang, kapan kau akan mengakhiri petualanganmu?” tanyamu selalu saat aku sudah mulai bangkit kembali. Aku tak pernah menjawabnya dengan sepatah kata pun. Kau pun tak pernah bertanya lebih banyak lagi. Seakan kau tahu bahwa suatu hari nanti akan kubuktikan, akan kupunya satu cinta saja untuk selamanya. Aku memang telah membuktikannya. Di depan penghulu aku berikrar untuk selalu menjagamu. Kau menjawabnya dengan air mata haru.

***

Semuanya baik-baik saja Dik, hingga ia datang di kehidupan kita. Dia menawariku secangkir madu. Aku tak kuasa menolaknya. Aku sungguh bodoh. Aku terpedaya. Winarsih, dia yang dulu membuatku meninggalkanmu, ternyata adalah seorang bidadari berhati sengkuni. Dengan wajahnya ia memikat, namun dengan taringnya ia akan menghisap habis darah di tubuh korbannya, yang kemudian menjadi biru, kaku, dan akhirnya mati dalam sakit hati.

Itulah yang terjadi padaku saat ini, Dik. Aku hampir mati karenanya. Di saat aku bekerja dengan beribu tetes peluh dan berjuta harapan, teganya ia membawa laki-laki itu ke dalam rumah. Rumah yang katamu dulu penuh cinta.

“Kalau rumah ini memang dipenuhi cinta, mungkin aku tak akan melakukannya! Tapi engkau selalu diam seribu bahasa! Aku ini wanita Kang! Aku tak yakin akan cintamu! Kau tak pernah mengatakannya! Rumah ini terasa sunyi!” Itulah yang dikatakan Winarsih ketika aku memergoki mereka berdua. Sebuah alasan yang sama, yang selalu kuterima ketika cinta-cinta yang lain hendak meninggalkanku.

Aku memang tak pandai mengumbar kata cinta. Tak seperti Chairil Anwar ataupun Rendra, yang mampu merangkai kata puitis, hingga tercipta puisi romantis. Bagiku, cinta tak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta datang dari hati, maka cinta dapat terbaca dari tatapan mata. Bukankah mata adalah jendela hati? Cinta juga tak perlu diungkapkan secara berlebihan. Cukup dengan kesederhanaan. Seperti pengabdian seorang istri terhadap suami, dan suami yang akan selalu menjaga dan melindungi anak istrinya. Hanya kau yang mampu memahaminya, Dik.

***

Mereka tak jua jera meski berulang kali kupergoki. Hingga kesabaranku habislah sudah. aku memberinya pilihan, aku atau lelaki itu. Dan aku telah mendapatkan balasan atas apa yang telah kulakukan padamu dulu, Dik. Ketika aku memilih Winarsih tanpa memedulikan air matamu. Juga ketika aku membawanya ke rumah kita, sementara kau harus kembali ke orangtuamu dengan membawa Ryan, buah hati kita. Karma itu telah menimpaku. Winarsih memilih lelaki itu. Meninggalkanku sendiri.

Aku merindukanmu Dik. Juga masa-masa di mana kita masih bersama. Kau selalu setia membawakan masakanmu untuk memulihkan energiku setelah seharian bekerja di sawah. Kau ajak serta Ryan yang semakin lincah dan pandai. Lalu kita akan berbincang mengenai apa saja. Tak kita hiraukan matahari yang bersinar dengan angkuhnya, karena cinta telah meneduhkan hati kita.

Tak akan kulupakan ekspresi bahagiamu ketika Ryan mulai bisa berjalan. Juga ketika kau ajari dia untuk mengenali orang-orang yang kan selalu menyayanginya. Saat itu kau bertanya,

“Ayah mana Ryan?” maka Ryan akan menunjuk diriku. Lalu kau bertanya lagi,

“Bunda mana Ryan?” dan Ryan akan menunjuk dirimu.

***

Dik, betapa bahagianya aku ketika kita berjumpa tanpa sengaja. Tak seberapa jauh dari sawah, ketika senja menyelimuti desa kita. Namun, kau malah mempercepat langkahmu.

“Kang, kumohon jangan ganggu aku, di saat aku mencoba untuk melupakanmu!” begitu katamu saat aku mencoba untuk mengejarmu.

“Benarkah kau ingin melupakanku? Selamanya dalam hidupmu? Bagaimana dengan Ryan, anak kita?”

“Kang, mengapa kau berkata demikian? Sedangkan dulu saat kutanya tentang nasib anak kita, kau lebih memberatkan hatimu pada wanita itu.”

“Maafkan aku Dik. Saat itu aku memang mabuk. Dan ketika tersadar, kau sudah begitu jauh dariku.”

“Sudahlah, Kang. Anggap saja kami tiada. Atau kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“Dik, bukankah berdosa jika memutuskan silaturahmi?”

“Kang, dosa terbesarku adalah dulu ketika aku begitu mencintaimu, hingga melupakan-Nya. Saat itu kepalaku hanya dipenuhi oleh dirimu. Aku lupa akan kewajibanku sebagai manusia untuk bersujud kepada-Nya. Saat kau meninggalkanku, aku tahu bahwa Tuhan telah menghukumku. Ya, Kang, tak akan kuulangi lagi kesalahanku.”

Dik, dulu aku memang melalaikan-Nya. Dia telah memberikan wanita terbaik di sampingku, namun aku tak pernah mensyukurinya. Aku pun telah mendapatkan hukumannya, Dik. Masih adakah kesempatan untukku? Aku berjanji akan menjadi imam yang baik untukmu, dan anak kita.

***

Mimpikah ini Dik, aku melihatmu di ambang pintu. Kurasa tidak, karena terasa sakit saat kulitku kucubit.

“Kang, sudah kuputuskan, kau boleh menemui Ryan kapan pun kau mau.”

“Benarkah??!! Apa ini berarti kau menerimaku kembali? Kita rajut kembali kisah kita dulu?”

“Maafkan aku, Kang. Untuk itu aku telah menguburkannya dalam-dalam. Kedatanganku kemari adalah untuk ini.”

Dik, kali ini aku berharap sedang bermimpi, ketika kau serahkan sepucuk undangan bersampul biru, tertulis namamu dengan satu nama, Setiadi.

***

*Dimuat dalam Antologi Cerpen FBS UNY 2008, Kenangan: Esok Pasti Cerah

 

#Cerpennya Mbak Editor lagi. Mau kenalan? Langsung ke sini >> Tristanti

[Cerpen] Sang Penari

Pic: www.anneahira.com
Pic: http://www.anneahira.com

Oleh: Eista Swaesti

Aku seorang penari. Darah seni sudah mengalir di nadiku sejak usiaku masih kanak. Musik sudah menjadi teman dalam jiwa. Bagiku menari adalah hidup. Dalam kehidupan kita menarikan kewajiban dan hak-hak kita untuk dapat terus bertahan. Menari adalah kebahagiaan. Bahagia melihat orang-orang dapat tersenyum dan ikut menarikan tangannya mengikuti irama gending. Aku menciptakan tarianku sendiri. Itu kulakukan agar masyarakat yang menonton tidak bosan.

Ya. Aku memang penari keliling. Bersama rombongan kesenian yang dipimpin Pak Broto, bapak kandungku, mengembara dari satu desa ke desa lain. Tidak jarang kami mendapat tawaran untuk tampil pada acara-acara peresmian gedung yang baru saja selesai dibangun, atau tampil pada acara penyambutan para pejabat yang pulang dari tugas dinasnya.

Begitulah kehidupanku. Semenjak ibu meninggal, akulah yang menggatikannya menjadi penari. Tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri, karena dari kecil aku memang sering diajak untuk tampil di mana-mana. Aku ikut merasakan bagaimana rasanya hidup di jalan. Aku ikut merasakan bagaimana kerasnya menjalani hidup. Betapa susahnya mencari sekeping uang untuk hidup sehari-hari. Dulu aku sering merasa iri dengan teman-teman sebayaku. Mereka bisa enak dan santai dalam menikmati masa kanak-kanaknya, sementara aku harus berjuang dulu untuk dapat merasakan hidup seperti mereka. Dan sekarang, di saat usiaku menginjak dua puluh empat tahun, aku semakin menyadari bahwa hidup semakin sulit. Orang-orang harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan fasilitas hidup yang layak. Apalagi orang kecil dan miskin sepertiku, Bapak, dan orang-orang di sekitar kami. Kami hanya hidup dari petinggi atau pejabat atau orang-orang yang memanggil kami untuk tampil pada acara mereka. Ah, betapa susahnya menjadi orang miskin.

“Ranti! Kau jangan terus melamun. Kita harus siap-siap berlatih kembali,” tegur Bapak.

“Kita mau pentas di mana, Pak?” tanyaku.

“Tidak di mana-mana. Hanya di desa kita saja,“ jawab Bapak. Aku cuma mengangguk.

“Besok, rencananya makam di ujung desa akan dibongkar dan didirikan pabrik, kita diminta pentas untuk mengisi acara peletakan batu pertama,” lanjut Bapak ketika tak mendengar responsku. Aku terkejut mendengar penjelasan Bapak.

“Pak, itu kan makam keramat. Makam para leluhur desa kita. Makam Mbah Somo! Warga desa kita tidak akan setuju dengan rencana itu. Makam itu sudah dianggap suci dan bersejarah oleh warga desa kita karena itu makam para leluhur mereka. Bukankah Bapak juga sering berziarah di makam itu? Bukankah makam orangtua Bapak juga di situ?” aku mencoba untuk menyadarkan Bapak.

“Tapi makam itu sudah tidak ada gunanya. Tiap hari kita berziarah, tetapi tidak mendatangkan keuntungan buat kita. Apa dengan berziarah kita bisa mendapatkan uang? Dengan didirikannya pabrik, kita dan warga desa bisa mendapatkan penghasilan yang menjajikan. Kau juga tidak usah berkeliling untuk menari. Hanya bekerja di pabrik dan kau mendapatkan uang. Lagipula kalau kita tampil pada acara peletakan batu pertama itu, kita akan mendapatkan uang banyak. Para pejabat itu sudah menjanjikan uang yang tidak sedikit untuk kita dan mereka juga janji akan memberi Bapak jabatan yang tinggi setelah pabrik itu jadi. Kesempatan ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja,” kata Bapak berapi-api.

Aku terdiam. Kulihat mata Bapak penuh dengan gelimang uang yang akan dia peroleh. Kemudian tawanya meledak membayangkan kekayaan yang akan ia rengkuh. Bapak sudah terbius kekuasaan. Aku, bukannya tidak senang akan perubahan kehidupan yang sejak dulu kuimpikan, tetapi kalau harus mengorbankan kepentingan warga desa untuk kepentingan diri pribadi, itu terlalu egois. Bertahun-tahun makam itu dijaga dan dirawat. Warga desa percaya jika berziarah di makam itu rejeki akan terus mengalir lancar. Berziarah adalah tanda kehormatan bagi leluhur desa yang sudah meninggal. Sekarang makam itu akan dibongkar untuk dijadikan pabrik. Apa yang akan terjadi dengan kehidupan desa mereka kelak?

Tiba-tiba terdengar ramai suara orang berteriak-teriak menyerukan protes. Aku segera berlari ke depan melihat apa yang terjadi. Kulihat segerombolan orang berjalan menuju rumah kepala desa dengan membawa alat-alat pukul dan menyerukan beberapa protes. Dugaanku tidak keliru. Warga desa pasti akan menyerukan ketidaksetujuan mereka akan rencana pembangunan pabrik di atas makam Mbah Somo.

Aku terdiam dan terpaku. Ingin melakukan sesuatu untuk membela mereka, tapi aku sadar aku hanya seorang penari. Orang kecil seperti mereka. Yang kalah akan kekuasaan dan kedudukan. Berapa pun jumlah yang kami kerahkan untuk mencegah pembangunan pabrik, pasti bisa dikalahkan. Ya. Kami kalah dalam hal kekuasaan.

“Tenang Bapak-bapak, Ibu-ibu. Sebenarnya makam ini tidak dibongkar, tetapi dipindahkan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu tetap dapat berziarah di makam Mbah Somo. Adapun pabrik itu dibangun, demi kepentingan Bapak-bapak dan Ibu-ibu juga. Bapak-bapak dan Ibu-ibu tidak perlu lagi mengharapkan penghasilan yang tidak tentu. Bapak-bapak dan Ibu-ibu bisa bekerja di pabrik dan mendapatkan gaji tetap tiap bulannya. Kami janji akan mensejahterakan kehidupan Bapak-bapak dan Ibu-ibu setelah pabrik selesai dibangun,” jelas Pak Kepala Desa menenangkan warganya. Pernyataan yang menurutku hanya untuk menenteramkan hati warga desa. Rupanya Pak Kepala Desa juga sudah terbius dengan obat yang sama. Kekuasaan dan uang.

***

Jadilah makam itu dibongkar. Makam Mbah Somo dipindahkan di tanah yang masih tersisa. Entah dipindah betul atau tidak, aku dan seluruh warga desa tidak tahu. Yang aku tahu, Bapak sangat giat melatih anak buahnya agar dapat tampil maksimal dan tidak terkesan ndeso. Sekali lagi, aku hanya seorang penari yang tidak bisa menolak takdirnya. Aku mematuhi perintah Bapak, dengan hati tak rela.

Malam ini, aku menari. Aku menari di atas makam leluhurku. Leluhur yang bertahun-tahun kuhormati. Leluhur yang menjadikanku untuk tetap tegar menjalani kehidupan. Namun, lama-kelamaan geding yang seharusnya mengiringi tarianku, berubah menjadi suara tangis yang menyayat, suara jerit tangis orang-orang miskin, tangis anak-anak dengan perut membusung kelaparan. Tarianku terhenti. Aku menutup telingaku. Namun, suara-suara itu tetap saja mengiringiku. Lalu aku berlari meninggalkan tempat itu. Tak kupedulikan Bapak dan orang-orang mengejarku, aku terus berlari menuju tempat yang penuh kedamaiaan dan jauh dari suara tangis yang makin menyayat. Tempat yang membuatku bisa membagi tarianku kepada orang-orang yang tak haus akan kekuasaan dan uang. Tempat yang memberiku arti kehidupan yang sesungguhnya. Tempat yang masih peduli akan tanah leluhur.

Aku seorang penari. Namun aku menari bukan untuk membanggakan kekuasaan. Aku menari untuk memberikan kebahagiaan kepada korban kekuasaan.

***

Yogyakarta, 21 April 2010

 

*Cerpen ini pernah menjadi Juara II Lomba penulisan CerMa (Cerita Remaja) tahun 2010 di Koran Minggu Pagi Yogyakarta.

 

#Btw, ini cerpennya Mbak Editor Javalitera lho. Mau kenalan? Mampir saja ke sini >> Eista Swaesti

[Cerpen] Cocok Dibaca Siang Hari

Pic: mujahidah18.files.wordpress.com
Pic: mujahidah18.files.wordpress.com

Oleh: Emirfan

Nama beliau Sukardi. Usia beliau hampir tujuh puluh tahun. Aku baru tahu nama dan umur beliau dari berita harian lokal tadi pagi. Jasadnya ditemukan warga sekitar pukul empat Subuh. Diberitakan bahwa beliau tampaknya terjatuh telungkup. Muka beliau penuh darah dan luka. Banyak yang mengenal lelaki tuna netra ini, termasuk aku.

Aku pertama kali melihatnya lima tahun yang lalu. Saat aku pertama kali datang untuk sekolah di kota ini. Setahuku, tiap malam ia berjalan dengan tongkat yang dihiasi kaleng, sehingga tongkat itu akan berbunyi saat membantunya berjalan. Aku sampai hafal bunyi kalengnya. Beliau satu-satunya di kota ini. Bapak tua ini selalu memakai baju gelap. Seperti baju silat. Celana panjangnya sudah terlalu pendek. Warnanya yang kelam juga sudah pudar. Yang tidak ketinggalan adalah kopiah hitamnya.

Anehnya beliau dapat berjalan dapat sampai jauh. Aku sering melihat beliau di jalan yang berbeda dan itu sangat jauh, menurutku. Aku begitu iba ketika melihatnya. Dengan mata tertutup karena buta, beliau sendirian melangkah mengelilingi kota ini. Entah apa yang beliau cari. Uang? Aku tidak pernah menangkapnya meminta atau diberi uang. Lalu apa? Aku sempat ingin mencari tahu. Namun aku bukan pengintai yang baik. Aku hanya melihat bapak itu dari atas sepeda motorku yang butut. Lalu motorku terlalu cepat juga dibanding jalannya yang lambat. Akhirnya aku pun meninggalkan bapak itu. Ya, seperti itu sajalah sepengetahuanku. Aku belum pernah melakukan pencarian informasi selain hal tersebut.

Suatu malam hatiku begitu gundah. Aku sangat merindukan kekasihku yang sudah satu bulan meninggalkanku. Aku baru tahu ternyata aku benar-benar mencintainya. Dini hari itu aku pergi keluar dengan motor tuaku. Aku tak tahu mau pergi ke mana malam itu. Dua jam berlalu, aku masih di atas motorku, berkeliling kota. Aku terus membayangkan kekasihku yang jauh di kota lain. Kata pujangga, aku benar-benar hampa tanpanya. Ternyata semakin lama semakin buyar saja konsentrasiku. Rasanyabegitu gelap malam itu. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku tidak merasa mengendarai sepeda motor, seperti sedang tidur saja.

Di Jalan Jenderal Soedirman, aku menabrak bapak tua buta yang tadi aku ceritakan. Ya. Pak Sukardi. Kulihat kanan-kiri. Tidak ada satu orang pun di sana. Kutancap gas. Aku bergegas pulang.

Esok paginya, saat kubaca koran di kantor. Mataku menangkap sebuah headline, “Orang Buta Ditemukan Tewas”. Pada subheadline tertulis “Diduga Terjatuh Karena Kelaparan”.

Siang ini aku menuliskan ceritanya. Tak ada yang tahu bahwa aku yang menabrak orang buta itu, selain aku, Tuhan, dan Anda pembaca cerita pendek yang cuma rekaan ini.

Yogyakarta, 2 September 2008

#Eh, cerpen ini ditulis oleh Pimred-nya Javalitera loh. Kalau mau kenalan sama beliau, mampir aja ke sini nih >> Emirfan 😀

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑