Cari

Redaksi Javalitera

Gudangnya Literatur Inspiratif

Kategori

Javapedia

Tips Mengurangi Minus Mata

Mata minus atau rabun jauh, bagi kalian yang gemar membaca pasti sudah tidak asing lagi dengan kelainan mata yang satu ini. Mata minus memang selalu dikait-kaitkan dengan kegemaran membaca. Namun, sebenarnya ada banyak faktor penyebab dari mata minus. Mulai dari faktor keturunan, pola makan yang tidak sehat, serta pola hidup yang kurang sehat, seperti membaca buku dengan penerangan yang kurang memadai, membaca sambil tiduran, membaca dengan jarak mata dan objek yang terlalu dekat, terlalu sering menatap layar televisi ataupun komputer, dan lain-lain.

Pic: www.yukiwaterfilter.com
Pic: http://www.yukiwaterfilter.com

Menderita rabun jauh atau minus, memang kurang menyenangkan. Karena harus ketergantungan kepada alat bantu berupa kacamata atau lensa kontak untuk dapat melihan objek dari jarak jauh dengan jelas. Untuk mencegahnya, tentu saja kita harus menghindari faktor-faktor penyebabnya sebagaimana yang telah disebutkan pada paragraf di atas, kecuali faktor keturunan.

Nah, buat yang udah terlanjur minus, nih ada tips mengembalikan fokus mata sehingga mengurangi minus mata. Cekidot, yuks!

Pertama, apabila kamu harus berhadapan dengan komputer atau laptop dalam aktivitasmu sehari-hari, maka aturlah agar kecerahan layar komputer tidak terlalu terang. Atur pula posisi mata dengan layar agar tidak terlalu dekat.

Setiap 5–10 menit sekali, sempatkan untuk mengistirahatkan mata. Bisa dengan cara memejamkan mata selama beberapa detik, atau dengan melihat objek/benda lain selain layar komputer. Basuh muka dengan air dingin juga dapat bermanfaat untuk menyegarkan kembali mata yang lelah. Selain itu, pastikan untuk tidur yang cukup, yaitu 8 jam per hari.

Kedua, kalau kamu suka membaca, pastikan untuk membaca dalam posisi yang baik. Atur jarak antara mata dan bacaan, jangan terlalu dekat. Jangan membaca sambil tiduran, karena posisi ini akan membuat jarak antara mata dengan bacaan berubah-ubah. Akibatnya, mata menjadi tidak fokus. Pastikan membaca dalam penerangan yang memadai. Jangan membaca di tempat yang remang-remang, karena akan membuat mata menjadi lelah.

Ketiga, jaga pola makan agar tetap sehat. Hindari konsumsi obat-obatan yang justru akan membahayakan kesehatan mata. Kalau ingin mengonsumsi suplemen atau vitamin untuk mata, pastikan untuk memilih merek yang terpercaya atau atas rekomendasi dokter mata. Kalau ingin cara yang lebih aman, konsumsi vitamin mata yang lebih alami seperti buah dan sayur-sayuran.

Keempat, kamu bisa juga melakukan senam khusus untuk mengembalikan fokus mata. Berikut cara yang aman dan tidak berbahaya untuk mengembalikan fokus mata:

  1. Ketika bangun tidur, lihatlah pemandangan hijau dari pepohonan sekitar. Pilih pohon dengan jarak paling jauh, perhatikan selama 5 sampai 10 menit. Lakukan secara rutin setiap hari.
  2. Gosokkan kedua telapak tangan hingga tercipta panas, kemudian letakkan telapak tangan pada kelopak mata. Tahan selama lima detik. Ulangi sebanyak tiga kali.
  3. Gerakkan bola mata searah jarum jam dan juga berlawanan arah jarum jam. Lakukan sebanyak 5 kali sehari.
  4. Posisikan sebuah pensil atau objek lain dengan jarak 20 – 30 cm di depan mata. Fokuskan pandangan pada objek tersebut, kemudian dekatkan secara perlahan hingga jarak 10 cm. Lalu jauhkan lagi hingga ke posisi semula. Ulangi sebanyak 10 kali.
  5. Lakukan pijatan untuk mata. Mulai dari memijat pelipis secara melingkar searah jarum jam sebanyak 20 kali, dan berlawanan arah jarum jam sebanyak 20 kali juga. Kemudian pijat tengah alis, dan terakhir pijat dengan lembut area bawah mata dengan jari-jari.
  6. Ketika mata terasa lelah, letakkan irisan mentimun di atas kelopak mata lalu berbaring di tempat nyaman. Bisa juga dengan menempelkan daun sirih di kelopak mata saat akan tidur.

Setelah melakukan beberapa tips di atas selama beberapa minggu, kamu akan merasakan penglihatanmu meningkat sedikit demi sedikit. Namun, tentu saja hal itu tidak akan berhasil apabila tidak diimbangi dengan menjaga pola makan dan pola hidup yang sehat.

Selamat mencoba!

 

#Dari berbagai sumber

Iklan

Cerita Mince: “Apa itu Naskah Fiksi dan Nonfiksi?” — (Bagian 1)

Siang ini, Mince berhasil mengendap-endap ke ruang redaksi. Bukan tanpa maksud, Mince ke sini sebab ada misi khusus untuk menemui Mbak Editor. Pasalnya, kemarin Mince habis ditanya oleh salah seorang followers @javalitera. Begini pertanyaannya:

“Mince, apa, sih, bedanya naskah fiksi dan nonfiksi?”

Nah, loh! Mince susah deh jawabnya. Setahu Mince, fiksi itu ya novel, cerpen, dan sejenisnya. Sedangkan, nonfiksi itu catatan harian Mince. Jiaah… abaikan!

Daripada Mince menjerumuskan orang lain dengan jawaban ngawur Mince itu, mending Mince tanya ke Mbak Editor saja deh. Dan inilah hasil perbincangan kami.

1. Hay, Mbak Editor. Lagi ngedit naskah apa nih? #BasaBasiMince

Matematika.

2. Oo… pantes dari tadi kayak bau hangus. Hihihi…

Hem. Udah, langsung saja, Ce. Ada perlu apa?

Ekspresi Mbak Editor kayak gini via http://srirahayucatatan.blogspot.com/
Ekspresi Mbak Editor kayak gini via http://srirahayucatatan.blogspot.com/

3. Wew… Mbak Editor gitu amat sih. Kebanyakan baca rumus pasti yaa… ups! Iyaaa… iya, maaf. Mince ke sini mau tanya-tanya nih. Mbak Editor kan kerjaannya ngurusi naskah terus tuh, emang definisi dari naskah itu sendiri apaan sih?

Kalau menurut Library and Information Science, naskah itu ya tulisan tangan yang menjadi arsip atau koleksi perpustakaan, misalnya naskah-naskah sastra lama dan lain-lain. Namun dalam konteks lain, penggunaan istilah “naskah” pada masa kini tidak semata untuk sesuatu yang ditulis tangan. Dalam penerbitan buku misalnya, naskah merupakan hasil karangan seseorang yang belum diterbitkan. Dalam perfilman, naskah berarti teks/skenario yang digunakan oleh para pemain drama dalam pembuatan film atau pertunjukan. Dalam istilah berita, naskah adalah laporan mengenai suatu hal atau peristiwa yang ditulis oleh seorang wartawan untuk dimuat di media massa atau elektronik.

4. Ha? Sudah, segitu saja?

Iya, kalau kamu tanya apa itu naskah maka jawabannya ya cuma itu. Tapi kalau mau dijabarkan lagi, sebenarnya karangan itu bisa dibedakan menjadi beberapa jenis. Jika dilihat dari bentuknya, dapat dibedakan menjadi narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Sedangkan bila dilihat dari sifatnya, maka akan ada karangan fiksi, nonfiksi, puisi, dan naskah drama.

5. Nah, itu dia… itu dia yang Mince mau tanyakan. Apa yang dimaksud dengan naskah nonfiksi dan fiksi itu?

Kenapa nggak to the point dari tadi, Ce? -_-

6. Ya… ya… terserah Mbak Editor sajalah.

Oke, kita mulai dari nonfiksi. Nonfiksi adalah sebuah karangan yang disampaikan secara faktual dan disertai bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Karangan nonfiksi dapat berupa sebuah karya ilmiah maupun nonilmiah, dengan menggunakan bahasa yang denotatif. Ilmiah maksudnya bukan lantas menggunakan bahasa-bahasa sok intelek seperti “statusisasi kemakmuran”, “labil ekonomi”, dan “konspirasi hati” ya. Hahaha 😀

Duh, maafkan jadi melantur. Abaikan yang tadi. Intinya, dalam karangan nonfiksi, bahasa yang digunakan harus bersifat lugas, jelas, dan juga harus memperhatikan kaidah kebahasaan yang ada. Dalam karangan nonfiksi, aspek estetika bukan sesuatu yang dianggap penting, yang lebih penting adalah kejelasan maknanya. Jadi, nggak usah pakai bahasa yang lebay dan mengharu biru, justru gunakanlah kalimat-kalimat yang efektif dan tidak ambigu sehingga pesannya dapat mudah tersampaikan kepada pembaca.

7. Kalau Mince bikin tulisan yang berupa tips-tips gitu, termasuk dalam karangan nonfiksi nggak, tuh?

Karena sifatnya faktual, maka artikel yang berisi tips-tips seperti itu termasuk ke dalam karangan nonfiksi. Kecuali kalau kamu membuat tips cara mengendarai sapu terbang milik Harry Potter. 😀

8. Haha… bisa saja Mbak Editor ini. Terus, contoh karangan nonfiksi lainnya apa?

Beberapa contoh karangan nonfiksi lainnya antara lain laporan penelitian, biografi, artikel, esai, ensiklopedia, buku-buku referensi, dan lain-lain. Buku-buku referensi itu juga bisa banyak sekali lho jenisnya, cari sendiri ya. ^_^v

9. Oke, sip, paham sekarang. Ya sudah, lanjut saja ke fiksi. Hehe…

Fiksi adalah bentuk karangan yang isinya berorientasi pada imajinasi. Berbeda dengan nonfiksi yang tidak mengutamakan estetika dan menggunakan bahasa yang jelas dan lugas, dalam fiksi justru karangan dikemas dengan bahasa yang estetis atau indah, bahkan kadang menggunakan simbol-simbol atau metafora. Fiksi juga menuntut adanya daya imajinasi yang tinggi, tak seperti nonfiksi yang terbatas pada fakta dan aturan-aturan tertentu.

Sebuah karangan fiksi harus memiliki efek atau kesan tertentu dalam batin dan pikiran pembaca, sehingga pembaca akan tertarik untuk melanjutkan membaca. Kesan-kesan yang ditimbulkan tersebut dapat berupa rasa gembira, sedih, tragis, terharu, terinspirasi, terenyuh, takut, dan lain-lain.

Jadi, jika ingin menulis fiksi maka perbanyaklah perbendaharaan kosakata serta latihlah kreativitas untuk mendramatisasi sebuah adegan dengan kata-kata. Yang termasuk dalam karya fiksi antara lain adalah cerpen, novel, roman, novelete, dan cerita rekaan lainnya.

10. Mbak Editor bilang fiksi itu cerita rekaan yang berorientasi pada imajinasi. Lantas kalau ada cerpen atau novel yang terinspirasi dari kisah nyata gimana tuh?

Oh, itu. Jadi begini, karya fiksi itu kan memiliki dua unsur pembangun, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang ada di dalam karya fiksi itu sendiri, meliputi tema, tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, alur, dan lain-lain. Sedangkan, unsur ekstrinsik adalah unsur di luar karya yang secara tidak langsung ikut memengaruhi karya itu sendiri.

Jadi ketika seorang pengarang terinspirasi dari kisah nyata untuk membuat sebuah cerita, maka cerita tersebut tetap disebut karya fiksi, sebab ada unsur-unsur instrinsik di dalamnya berupa tema, plot/alur cerita  tokoh, penokohan, sudut pandang, latar/setting, dan amanat yang merupakan hasil dari imajinasi pengarang itu sendiri. Masih tetap ada daya imajinasinya, kan?

11. Aeeh… bukan itu maksudnya…

Lha, jadi gimana maksud pertanyaanmu? Sudah terlanjur ngomong panjang lebar juga. 😦

12. Gini, lho. Kan ada tuh novel atau cerita pendek yang diangkat dari kisah nyata. Novelnya Andrea Hirata misalnya, yang Tetralogi Laskar Pelangi. Bukan hanya terinspirasi, tapi tema, alur, dan bahkan nama-nama tokohnya kan juga sama tuh? Seperti menceritakan kembali pengalaman hidupnya. Kenapa itu disebut fiksi hayo?

Owalah, itu. Yah, walaupun ada unsur true story-nya, tapi novel itu tentu “bumbu penyedapnya” lebih banyak. Nanti pembaca juga bisa merasakan sendiri hal itu. Coba saja kamu baca buku biografi dan baca novel tersebut. Keduanya sama-sama menceritakan kisah hidup seseorang, tapi apa efek yang kamu dapat ketika membaca dua karya tersebut? Beda, kan?

Selain gaya bahasanya yang mengharu biru, dalam novel itu juga ada unsur dramatisasinya. Tetap ada daya imajinasi dari pengarangnya. Maka tetap disebut sebagai karya fiksi.

Lain halnya dengan biografi. Meskipun sama-sama menceritakan perjalanan hidup seseorang, saat membaca biografi tidak akan menimbulkan efek-efek tertentu bagi pembaca. Membuat kita terinspirasi, mungkin bisa jadi. Namun tak ada efek haru biru atau bahkan nangis bombay seperti ketika kita membaca novel. Sebab biografi hanya memaparkan fakta-fakta yang ada, tanpa adanya unsur dramatisasi dan imajinasi. Oleh sebab itulah dia disebut nonfiksi.

13. Hemm… oke, oke. Nah, tadi Mbak Editor menyebutkan unsur-unsur fiksi. Ada intrinsik, ada pula ekstrinsik. Bisa dijelaskan apa saja itu?

Bisa… bisa, apa sih yang nggak buat kamu. 🙂 Tapi besok saja ya, kamu kembali lagi ke sini. Saya mau kerja dulu, nih lihat deadline sudah berjejer rapi. 😦

14. Waduh! Baiklah kalau begitu, Mbak Editor. Terima kasih obrolannya.

Iya, sama-sama, Mince, yang kece. Hehe…

Setelah pamit sama Mbak Editor, akhirnya Mince melipir cantik dari ruang redaksi dan kembali gelar lapak di timeline @javalitera. Jangan khawatir, besok Mince akan coba mengendap-endap ke ruangan itu lagi, buat menagih janji Mbak Editor, huahaha… *ketawa evil*

Menerjemahkan Novel Bahasa Inggris ke Dalam Bahasa Indonesia

Pertama-tama, mari kita baca cuplikan salah satu novel karya Agatha Christie yang diterbitkan pertama kali oleh Harper Collins pada 1949 berikut.

Crooked House

by Agatha Christie

Chapter 1

I first came to know Sophia Leonides in Egypt towards the end of the war. She held a fairly high administrative post in one of the Foreign Office departments out there. I knew her first in an official capacity, and I soon appreciated the efficiency that had brought her to the position she held, in spite of her youth (she was at that time just twenty two).

Mari kita simak arti per kata.

I : “saya”, “aku”, “gua”, dan “huruf kesembilan dari abjad Inggris”.  First: merupakan ordinal number yang berarti “pertama”. Bisa juga berarti “mula-mula”, “awalnya”. Came: merupakan bentuk past dari kata “come” yang berarti “datang”.  Know: artinya “mengetahui”, “mengenal”.  In: “di”, “dalam”, “pada”, “di antara”  Egypt: “Mesir”.  Towards: “terhadap”, “ke arah”, “untuk”, “menjelang”, “hampir”, dan “ke pada”. End: “akhir”  War: “perang”

Langkah kedua adalah memilah makna yang sesuai dengan konteksnya.

I : “aku”.  First: “awalnya” Came: “datang”  Know: “mengenal”  In: “di”  Egypt: “Mesir”.  Towards: “menjelang”. End: “akhir”  War: “perang”

Setelah mendapatkan makna kata yang sesuai dengan konteks kalimat, kita coba menyusunnya agar menjadi sebuah kalimat sehingga menjadi:  “I first came to know Sophia Leonides in Egypt towards the end of the war.”  “Aku awalnya datang mengenal Sophia Leonides di Mesir menjelang akhir perang.”

Langkah selanjutnya adalah menerjemahkannya menjadi kalimat yang enak dibaca. “Awalnya, aku mengenal Sophia Leonides di Mesir ketika Perang Dunia hampir berakhir.

Kalimat kedua: She held a fairly high administrative post in one of the Foreign Office departments out there.  She: “dia (perempuan)” Held: merupakan bentuk past dari hold yang berarti “memegang”, ‘mendapatkan”, “mengadakan”, mempertahankan” A: “sebuah”, “suatu” Fairly: “agak baik”, “lumayan”, “hampir” High: “tinggi”, “besar”, “mahal” Administrative: “administratif”, “ketatausahaan”, Post: “tonggak”, “tempat tugas”, “jabatan”, “surat kabar”, “majalah”, “menempatkan”, “memasang”.  One: “Satu” Foreign: “luar negeri”, “asing”, “yang datang dari luar” Office: “kantor”, “jabatan”, “jasa” Departments: 1 departemen. 2 bagian. Out: 1 keluar. 2 di luar There: 1 ada. 2 di sana

Langkah kedua adalah memilah makna yang sesuai dengan konteksnya.

She held a fairly high administrative post in one of the Foreign Office departments out there.

She: “dia (perempuan)” Held: “memegang”  A: “sebuah” Fairly: “lumayan” High: “tinggi”, Administrative: “administratif”, Post: “jabatan” One: “Satu” Foreign: “luar negeri” Office: “kantor”, Departments: 1 departemen. 2 bagian. Out: di luar There: di sana

Kemudian, kita menyusunnya agar menjadi sebuah kalimat sehingga menjadi: She held a fairly high administrative post in one of the Foreign Office departments out there.  Dia memegang sebuah jabatan administratif lumayan tinggi di satu kantor departemen luar negeri di sana.

Lalu menerjemahkannya menjadi kalimat yang enak dibaca:

She held a fairly high administrative post in one of the Foreign Office departments out there.  Dia menduduki jabatan administratif yang cukup tinggi di salah satu kantor departemen Luar Negeri di sana.

Kita sudah menerjemahkan dua kalimat dalam paragraph di atas. Sekarang coba Anda lanjutkan untuk mengerjakan kalimat selanjutnya. Caranya seperti yang dibahas di atas. Coba dulu dan jangan langsung melihat hasil terjemahan di bawah ini. Kalau sudah, silakan cocokkan dengan terjemahan di bawah. Kalimat Anda bisa saja berbeda karena setiap orang punya kreativitas yang berbeda, asal maknanya harus benar dan enak dibaca. I knew her first in an official capacity, and I soon appreciated the efficiency that had brought her to the position she held, in spite of her youth (she was at that time just twenty two).  Mula-mula, aku mengenalnya hanya untuk urusan kantor. Kemudian, aku segera mengagumi efesiensi kerjanya yang membawanya pada posisi yang cukup tinggi meskipun ia masih muda (waktu itu dia baru dua puluh dua tahun).

Mari kita kembali ke paragraph tersebut. Paragraf tersebut menceritakan awal mula perkenalan si pencerita (narator) dengan seorang gadis dua puluh dua tahun bernama Sophia Leonides. Ketika si narrator menceritakan kejadian itu, tentu saja ia menggunakan bentuk waktu simple past tense.  Mengapa? Karena kejadian perkenalan itu sudah terjadi atau sudah lewat. Oleh karena itu ketika kita menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, kita harus menciptakan suasana bahwa perkenalan itu sudah terjadi.  Lalu, apa lagi ciri bahwa kalimat-kalimat tersebut menggunakan simple past tense? Ya, pada kalimat pertama, terdapat kata “came” yang merupakan bentuk past dari “come”, kemudian ada kata”held”, “appreciated”, dan “knew”

Rumus simple past tense adalah sebagai berikut.

Subject + Verb II (past) + Object

Mari kita terapkan dalam kalimat yang sudah kita pelajari.

I first came to know Sophia Leonides in Egypt towards the end of the war.

Subject = I Verb II = came to know Object = Sophia Leonides Adverb of place and time = in Egypt towards the end of the war

Ingat, dengan memahami fungsi dari setiap kata, maka akan memudahkan kita dalam menerjemahkan dan memahami arti suatu kalimat.

She held a fairly high administrative post in one of the Foreign Office departments out there.

Subject = she Verb II = held Object = a fairly high administrative post Adverb of place = one of the Foreign Office departments out there

I knew her first in an official capacity, and I soon appreciated the efficiency that had brought her to the position she held, in spite of her youth (she was at that time just twenty two).

Subject = I Verb II = knew Object = her Adverb = first in an officially capacity

Subject = I Verb II = appreciated Object = the efficiency that had brought her to the position she held Adverb = soon, in spite of her youth

Subject = she To be past = was  Complement = twenty two Adverb of time= at that time

Jadi, akan lebih mudah bagi kita untuk menerjemahkan suatu kalimat jika kita mengetahui fungsi tiap-tiap kata yang membentuk suatu kalimat tersebut.  Lalu bagaimana cara untuk mengetahui fungsi tiap-tiap kata dalam kalimat? Pertama, cari mana saja yang termasuk kata benda. Ciri-ciri kata benda adalah sebagai berikut.:

  • Kelompok kata benda dibentuk dengan menambahkan beberapa kata di depan atau di belakang kata benda inti. Kata-kata tersebut di antaranya: a, the, this, that, some, any, one, my, dll. Contohnya: a boy (ditambah “a”), my book (ditambahkan my), some people (diambahkan some).
  • Ada juga kata benda yang tidak ditambahkan kata, yaitu kelompok kata benda yang tidak dapat dihitung (uncountable).
  • Didahului kata sifat, verb-ing, verb III, atau kata benda lainnya. Contoh: beautiful car (ditambah kata sifat beautiful), sleeping bag (ditambah verb-ing), written test (ditambah verb III, yaitu written), book store (diikuti kata benda lainnya, yaitu book).

Mari kita terapkan dalam latihan.

Carilah mana saja yang merupakan kata benda. 1. Andi borrowed my bag yesterday. Tentu saja Andi merupakan kata benda. Selain itu ada “bag”. Bisa diketahui karena diikuti dengan kata “my”. Sedangkan borrowed bukan merupakan kata benda, melainkan kata kerja karena dibentuk dari kata borrow+ed. Yesterday merupakan adverb atau keterangan waktu.

Setelah mengetahui mana saja yang merupakan kata benda, selanjutnya kita dapat menentukan mana yang kata kerja. Seperti contoh di atas, setelah kita menentukan mana saja yang termasuk kata benda, kita akan mudah menentukan mana yang merupakan kata kerja.  Setelah itu, kita tinggal mengartikannya dengan menerapkan pola sesuai dengan kalimat di atas. Kebetulan kalimat di atas berpola subjek, predikat, objek, dan keterangan. Subjek, pasti merupakan kata benda dan berada di depan kata kerja. Maka kita pilih: Andi. Predikat, merupakan kata kerja atau to be. Di kalimat tersebut tidak ada to be berarti kita pilih: borrowed (meminjam). Objek, berada setelah predikat yaitu “my bag” (tasku). Dan keterangan (jika ada) bisa berada di depan dan belakang. Fungsinya menerangkan kalimat, bisa tempat, bisa waktu, dll. Maka kita artikan: Andi meminjam tasku kemarin.

Teknik ini akan sangat berguna jika kalimatnya kompleks atau panjang dan terdapat banyak frasa seperti:

When I visited my grandmother’s house, I met my old friend.

Coba kita terapkan teknik di atas. Mana saja yang merupakan kata benda: I, grandmother’s house, old friend. Kemudian kita cari mana yang merupakan kata kerja: visited, met (diketahui karena berada setelah subjek (I) Mulai mengartikan dengan pola sesuai dengan pola kalimat di atas, yaitu Keterangan (diketahui karena ada kata “ketika” yang menerangkan keterangan waktu), Subjek, predikat, dan objek. Maka kita artikan: Ketika aku mengunjungi rumah nenekku, aku bertemu dengan teman lamaku.

Baiklah, mari kita kembali ke pola simple past tense.  Setelah membaca cuplikan novel Agatha Christie, kita tentunya dapat menyerap bagaimana pola simple past tense dibuat.

I first came to know Sophia Leonides in Egypt towards the end of the war. She held a fairly high administrative post in one of the Foreign Office departments out there. I knew her first in an official capacity, and I soon appreciated the efficiency that had brought her to the position she held, in spite of her youth (she was at that time just twenty two).

Jika kita akan sesuatu yang berhubungan dengan kata kerja, maka tidak perlu ditambahkan to be. Oh ya, to be past adalah was dan were. Namun jika kita hendak menuliskan tentang sesuatu yang bukan merupakan kata kerja seperti umur, kata sifat, dll., maka diperlukan to be was atau were.  Dapat kita lihat pada kalimat terakhir, yaitu: she was at that time just twenty two.  Pada kalimat tersebut tidak terdapat pekerjaan yang dilakukan, seperti kalimat lainnya, misalnya: bertemu, mengenal, mengagumi. Kalimat ini hanya menerangkan umur maka tidak memerlukan kata kerja, dan hanya memerlukan to be. To be past dari she adalah was.

Buku: Dari Penulis Sampai ke Pembaca

Buku yang sampai di tangan pembaca, telah melalui proses yang melelahkan. Simplenya sih, mulai dari penulis, kemudian penerbit, percetakan, distributor buku, toko buku, dan akhirnya pembaca.

Penulis juga ada dua tipe. Ada yg mengerjakan naskah pesanan dan ada pula yang mengirimkan naskah ke penerbit secara insiatif. Tipe pertama biasanya mengerjakan tema dari penerbit. Lalu penulis, mengembangkannya lewat outline yang kemudian akan dikirimkan ke penerbit untuk dimintakan persetujuannya. Kalo penerbit setuju, ya lanjut. Kalo gak, ya ganti outlinenya. Penerbit jg punya deadline sendiri. Ati2 Kalo kelamaan bikin outline, tar temanya bisa dioper ke penulis lain.

Tipe kedua, penulis punya naskah jadi atau baru outline, lalu mengirimkannya ke penerbit. Nah, ada penerbit yang hanya nerima naskah sudah lengkap, ada juga penerbit yang mau nerima yang baru outline. Cek dulu karakter penerbitnya.

Masuk ke lingkup penerbit. Setelah naskah diterima ke meja redaksi, para redaktur atau ada yg pake istilah editor akuisisi mulai rapat menentukan layak tidaknya suatu naskah diterbitkan. Jika ya, mereka akan kontak kamu.

Keputusan layak tidaknya, tergantung penerbitnya. Ada yang cukup dua minggu. Ada yang sampe tiga bulan.

Naskah yang layak terbit kemudian akan diproses. Dimulai dari dipilihnya editor yang akan menyunting, kemudian masuk proses editing agar enak dibaca. Penentuan ukuran buku, Setelah proses editing, masuklah pada proses tata letak, yang dikerjakan oleh layouter/setter. Sementara naskah dilayout, editor yang mengawal naskah tadi akan mendiskusikan rencana cover naskah tersebut bersama desainer cover.

Naskah selesai dilayout. Habis itu apa? Diproof dulu, Tuipz. Maksudnya hasil layoutan tadi dicek lagi oleh editor (yang mengedit) atau proof reader (tim lain).

Sumber: http://0.tqn.com/
Sumber: http://0.tqn.com/

Prosesnya bisa bolak-balik kalo memang belum sesuai dengan yang diharapkan oleh Tim. Biasanya pemimpin redaksi juga ikut nimbrung dalam rapat. SBPenerbit Dalam rapat (atau bisa juga via email) harus melibatkan tim marketing (distributor) yang biasanya paham apa yang diinginkan pembaca karena berada langsung di lapangan.

Setelah oke semua, biasanya pendaftaran ISBN dan langsung kirim ke percetakan.

Sumber: http://www.grafsalas.com/
Sumber: http://www.grafsalas.com/

 

Proses di percetakan, jika tidak ada antrean, memakan waktu sekitar 1-2 minggu. Cetak isi, cetak cover, finishing, jilid, dan wrapping plastik dikerjakan di percetakan. Setelah selesai, buku itu akan dikirimkan ke distributor buku, selaku pihak penghubung antara penerbit dan toko buku. Distributor bukulah yang mendistribusikan ke seluruh toko buku yang menjadi area penyebarannya atau  dengan kata lain toko-toko yang sudah bekerja sama.

Biasanya nama distributor juga ada di sebelah logo penerbit. Dan akhirnya, buku didisplay di rak-rak sesuai kategorinya.

Sumber: http://www.nps.gov
Sumber: http://www.nps.gov

Blog di WordPress.com.

Atas ↑