Cari

Redaksi Javalitera

Gudangnya Literatur Inspiratif

Kategori

Ruang Redaksi

“Jualan” Buku Kekinian

7a0bbc01-e7ed-4597-abe0-64f231513213

Oleh: Emirfan TM, Pemred Javalitera

Entah ada angin apa aku kepikiran buat ngajakin semua temen-temen Javalitera ngunjungin festival Buku dan Musik, Mocosik di JEC. Ide tersebut muncul setelah sehari sebelumnya, aku dateng (sendirian) ke sana. Saat aku datang, di atas panggung yang megah (untuk ukuran pameran buku), Tompi sedang “ngobrol” dengan penonton diiringi nada keyboard yang dimainkan Glenn Fredly. Sesekali mereka membuat lelucon. Tak lama berselang, mereka mem-pliswelkam-kan Najwa Shihab, yang kemudian diikuti Rudy Gunawan. Yang disebut terakhir, aku kenal jauh sebelum aku kerja di penerbitan, tentu saja melalui karyanya Mata yang Malas.

Aku hanya mengikuti bagian awal talk show mereka karena aku juga ingin menikmati hal-hal lain di sana, seperti jumlah penonton yang wuiihh. Aku berdiri menontonnya. Itu artinya tidak ada kursi yang tersisa. Lalu, pameran bukunya. Proses kerja samanya dengan penerbit, yang ternyata kudapat info kalau penerbit tidak membayar sewa stand, cukup bagi keuntungan sekian persen, sedang untuk buku tiket…. (Eh ini boleh di-share di khalayak ramai gak ya? Nunggu izin dulu deh ya ceritanya hehe.) Kemudian, tentang layout dan desain-desain di sana deh.

Ketika mereka ber-talk show, sedikit yang kunikmati karena hanya sebentar. Salah satunya adalah perkenalan Najwa dan Rudy dengan buku di masa kecilnya. Seperti Rudy, semasa kecil saya suka komik. Sedang, Najwa kecil katanya menyewakan buku koleksinya ke tetangganya. Kedua hal itu seperti mengantarkan ingatanku ke masa kecil. Kecilnya sama tapi kok gedenya beda nasib ya? Hahahahaha

Kalau disuruh gambarin acara tersebut dengan satu kata, mungkin aku akan bilang “Kekinian.” Menurutku, Mocosik ini ya pameran buku, dan yang namanya pameran buku intinya ya jualan buku. Tapi, jualan buku di Mocosik bisa dibilang jualan dengan konsep baru, nggak biasa, keluar dari kotak, nggak ngebosenin. Aku pengin temen-temen sekantorku juga menikmatinya. Untuk itulah aku “mewajibkan” mereka untuk datang, kemudian ngasih tugas untuk corat-coret di blog javalitera.com tentang Mocosik.

Hari terakhir acara Mocosik, kami sekantor datang ke JEC. Kisahnya sudah diceritakan tuh dengan berbagai sudut pandang. Hehehe.

Sudah lama gak nulis, aku kok kayaknya gak puas dengan tulisanku ini. Tapi yang namanya tugas, harus dikerjakan. Gak papa ya. Hahaha.

Terakhir deh. Lepas dari untung atau tidaknya penerbit yang ikut serta di sana, Mocosik membuat buku menjadi lebih kekinian. Buku fisik ternyata masih akan panjang umur. Lha iya, masa foto bareng buku buat postingan instagram pake e-book?

Iklan

Laper Mata di MocoSik: Books and Music Festival

dscf4241

Oleh: Tristanti Tri Wahyuni, Editor Javalitera

Yogyakarta barangkali menjadi salah satu kota yang sering dijadikan tempat terselenggaranya event pameran buku. Hampir setiap tahun, para pencinta buku akan dimanjakan oleh adanya bookfair dengan beragam tema yang diusungnya. Mengawali tahun 2017 kali ini, hadir sebuah acara bertajuk “MocoSik”. Dalam bahasa Jawa, “moco sik” dapat diterjemahkan menjadi “membaca dulu”. Sebagaimana acara-acara buku pada umumnya, secara garis besar MocoSik memang bertujuan untuk terus menghidupkan kegemaran membaca di masyarakat.

Namun demikian, acara ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan pameran buku biasanya. Dengan mengusung tagline “Membaca Musik, Menyanyikan Buku”, acara ini mencoba menggabungkan antara festival musik dan pameran buku. Sebuah konsep yang cukup unik dan konon merupakan pertama kalinya di Indonesia. Jadi selain memanjakan para pencinta buku, acara ini juga dapat menyenangkan hati para penikmat musik.

Ada beberapa musisi kenamaan yang tampil dalam acara ini. Sebut saja, Tompi, Raisa, Glenn Fredly, Jogja Hip Hop Foundation, Shaggydog, dan masih banyak lagi. Untuk dapat menikmati penampilan mereka, tentu saja kita harus membeli tiket. Namun, jangan bayangkan kalau tiket yang kita beli ini seperti tiket pada umumnya. Tiket di sini adalah berupa buku.

Cukup dengan membeli buku seharga 50 ribu, kita bisa nonton pertunjukan musik dari para musisi kenamaan. Ada banyak buku pilihannya. Lucu, ya. Kalau dipikir-pikir, nothing to lose. Kita seperti beli tiket festival musik gratis buku. Atau, beli buku bonus nonton festival musik.

Beli buku tiketnya di sini, ya.…

img_20170214_133858

Di samping beragam pilihan buku tiket, ada pula buku-buku keren yang dipamerkan dan cukup mampu membuat saya jadi laper mata. Ada beragam judul buku dengan berbagai tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Salah satu stan yang cukup menarik perhatian adalah stan buku-buku lawas/langka. Buku-buku tersebut diobral dengan harga mulai dari 10 ribuan.

img_20170214_132214

Ada Lima Sekawan, buku zaman SD. 😀

img_20170214_133537

Dan sebagaimana acara buku yang lain, tidak afdal jika tak ada talkshow seputar kepenulisan. Pada waktu saya ke sana, tiga orang pembicara, Bapak Hernowo, Mahfud Ikhwan, dan Okky Madasari, sudah siap berbagi inspirasi seputar “Menulis Sebagai Sebuah Tanggung Jawab”.  Secara ringkas, apa yang yang disampaikan para pembicara pada waktu itu adalah bahwa menulis merupakan kegiatan menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain. Dengan demikian, ada sebuah pertanggungjawaban yang harus ditanggung seorang penulis atas tulisan-tulisannya. Maka dari itu, tidak boleh asal-asalan.

dscf4253

Kedengarannya serem, ya. Tapi, kalau kita yakin dengan apa yang kita tulis, tentu nggak perlu takut dengan tuntutan pertanggungjawabannya, dong. Itulah sebabnya perlu memperbanyak wawasan dan pengetahuan, sehingga tulisan kita dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu cara untuk memperbanyak wawasan adalah dengan membaca. Di samping itu, membaca juga dapat memperkaya kebahasaan kita, yang nantinya berguna juga untuk membantu proses menulis.

Seperti kata Mbak Okky, “Kemampuan bahasa adalah senjata utama dalam menulis. Dibutuhkan kemahiran dalam memilih dan memilah.”

Last, meskipun tidak berkesempatan nonton perform Raisa, tapi hari itu saya cukup puas karena mendapat banyak ilmu baru sekaligus cuci mata hunting buku-buku. 😀

Menulis = Tanggung Jawab

dscf4253

Oleh: Eista Swaesti, Editor Javalitera

Menulis menjadi sebuah tanggung jawab. Tema yang muncul di talk show acara Mocosik (Panggung Literasi Festifal Buku) di JEC kemarin sungguh menarik. Talk show tersebut menghadirkan Mahfud Ikhwan (Penulis novel Belajar Mencintai Kambing), Okky Madasari (Penulis novel Entrok, dll.), dan Pak Hernowo sebagai pembicara. Saya belum pernah membaca satu pun buku-buku mereka sih, tapi saya rasa tidak ada pengaruhnya karena apa yang dibahas tidak mengerucut pada buku-buku mereka.

Oke, saya akan memulainya dengan statement yang diungkap oleh Mahfud Ikhwan, “Menulis untuk hidup atau hidup untuk menulis”. Statement tersebut cukup menarik jika diulas. Menurut pandangan saya, menulis untuk hidup tidak terbebani oleh sebuah tanggung jawab. Menulis untuk hidup hanya menuliskan apa yang dimaui oleh pasar/masyarakat. Istilah lainnya adalah mengikuti apa yang sedang tren di masyarakat. Dengan begitu, hasil dari tulisan kita akan laris manis diserbu masyarakat. Hal ini berbanding lurus dengan pemasukan keuangan kita sebagai penulis, maka pekerjaan menulis membuat kita bisa menikmati hidup. Sedangkan, hidup untuk menulis lebih ke tanggung jawab kita terhadap keadaan masyarakat. Tanggung jawab kita sebagai sebagai seorang masyarakat yang peduli terhadap isu-isu yang terjadi. Bisa jadi kita sebagai penulis memaparkan sebuah solusi. Jika ini yang terjadi, maka buku yang ditulis belum tentu laris manis karena hanya orang-orang tertentu saja yang membelinya.

Jika saya ditanya milih mana antara menulis untuk hidup atau hidup untuk menulis, maka jawaban saya dari hati yang paling dalam adalah hidup untuk menulis. Dengan hidup untuk menulis, kegelisahan-kegelisahan saya terhadap kondisi sosial masyarakat bisa tertuang dalam tulisan. Orang-orang yang membaca tulisan saya bisa “melek” mata dan hatinya terhadap kondisi yang terjadi di dalam masyarakat. Saya berharap, dengan tulisan saya, orang-orang bisa tergerak hatinya untuk membenahi keadaan sosial yang tidak sesuai dengan kultur budaya Indonesia. Dengan hidup untuk menulis, saya sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat merasa hidup yang saya jalani lebih berarti bagi orang lain. Bagi saya menulis itu bukan sekadar untuk memberikan informasi. Namun, bagaimana kita (penulis) dapat menyadarkan dan membangunkan masyarakat dari “tidurnya” yang beralas kain sutra empuk. Sayangnya, tulisan-tulisan yang seperti itu penggemarnya sedikit. Kalau bukan penulis yang sudah terkenal, sangat sulit untuk tembus di penerbit mayor. Mentok di penerbit indie atau tembus di koran-koran lokal yang mungkin nasibnya berakhir menjadi bungkus tempe/lotek (pengalaman pribadi).

Namun, bukan berarti juga saya tidak setuju dengan menulis untuk hidup. Saya bekerja di penerbitan buku, tentu saja buku-buku yang terbit sudah melalui pemikiran “Buku ini kalau dikeluarkan laris nggak ya?”, “Tema buku ini sedang dicari nggak ya sama masyarakat?”, atau “Sasaran pembaca untuk tema ini siapa ya, banyak nggak yang mau beli dan baca?”. Penulis-penulis yang memasukkan naskah tulisannya ke penerbit juga sama mikirnya karena mereka juga ingin buku mereka cepat diterima penerbit dan dapat fee yang sudah disepakati.

Sekali lagi, kalau saya ditanya milih menulis untuk hidup atau hidup untuk menulis, jawaban yang sesungguhnya ya dua-duanya. Meskipun di kedalaman hati saya memilih hidup untuk menulis, tapi saya juga tidak menolak jika karya saya dibeli dengan sejumlah uang. Hari gini gitu, lho! Lagipula, akan makin banyak orang kan yang tersihir dengan ramuan bahasa saya haha….

Maka dari itu, kesimpulan saya tentang menulis sebagai sebuah tanggung jawab adalah bagaimana tanggung jawab kita sebagai penulis untuk bisa memberikan informasi dan solusi kepada masyarakat tentang isu-isu yang sedang terjadi. Agar bisa membuka wawasan dan menggelitik pikiran kritis mereka tentang kondisi sosial masyarakat. Dan agar bisa memengaruhi dan mengembalikan pikiran serta kesadaran masyarakat dengan bahasa yang disusun sedemikian rupa. Wih… betapa kerennya ya, jadi penulis!

Ker-Ja-Lan-Jalan Javalitera

dscf4241
Book & Music. MocoSik.

Oleh: Tatik Giyantini, Administrasi Javalitera

Selasa 14 Februari 2017 ada yang berbeda di ruang kerja kami. Ehhh tunggu, jangan bayangin ruang kerja kami berubah jadi pink dipenuhi bunga dan banyak cokelat ya, enggak, bukan itu. Nggak ada hubungannya sama sekali. Sebenarnya yang berbeda bukan ruangannya sih, tapi kerjanya. Dari pagi sampai siang kami di kantor seperti biasa, nah saat jam istirahat kami ramai-ramai pergi ke JEC. Yak, hari itu ada “MocoSik”, sebuah acara yang menggabungkan musik dan buku. Kebetulan Selasa kemarin adalah hari terakhir. Diajakin ke acara kayak gitu pas jam kerja rasanya seperti nemuin kolam renang yang airnya sedingin es di padang pasir luas, haha. Ya gimana nggak? Kita kan, biasanya kerja di dalam ruangan, duduk di kursi masing-masing. Tiba-tiba diajakin kerja keluar, ketemu hal baru, nge-refresh pikiran, dan saya sih mikirnya sekalian jalan-jalan (kok, saya jadi ngerasa kayak anak kecil yang baru pertama kali diajak ke tempat bermain gini ya, tolong dimaklumi bagian itu tadi, nggak bermaksud norak hahaha).

Saat kami semua udah siap mau berangkat, ada satu kendala. Eh, bukan kendala sih sebenernya (entahlah saya belum nemu kata yang tepat untuk menyebutnya). Jadi gini, tim Javalitera itu terdiri dari 2 laki-laki dan 4 wanita. Nah, 2 di antara  wanita tersebut badannya mungil. Sedangkan yang 2 lagi badannya kayak kebanyakan gizi (if you know what i mean). Kita rencana pergi pakai 1 mobil, Mas Pemred sebagai pengendali mesin dan Mas Designer Cover menemani duduk di depan. Kami berempat duduk di belakang. Di sinilah kendala (dan sampai sini masih belum nemuin kata yang tepat)-nya terjadi. Nggak muat, huaaaa… sampai si Mbak Layouter maksa, ngajakin saya naik motor aja dan biarkan Duo Mbak Editor itu yang ikut mobil. Yah, kami merasa kamilah penyebab mobilnya nggak muat. Udah tahu, kan, berarti siapa yang badannya semacam kebanyakan gizi? Iya, saya. Eh, kamu juga lho Mbak Layouter! Welk! Tapi, setelah kami diskusi panjang lebar tinggi dan luas serta berusaha sekuat mungkin memecahkan masalah ini, akhirnya muat yeaaayy. Solusinya ya kami (tim kebanyakan gizi) duduk di pinggir kanan dan kiri, sedangkan Duo Mbak Editor di tengah-tengah kami. Mereka aman? Alhamdulillah, sampai kantor lagi dengan selamat dan mereka masih baik-baik saja walaupun kegencet dikit, hahaha.

img-20170214-wa0004
Saya mah kalem, duduk anteng, nyempil aja di pojokan 😀

Kembali ke topik aja ya (padahal sebenernya saya aja bingung, topik ceritaku apaan??). Jadilah kami berangkat ke JEC, ngeeeeeng, bremm bremm, telolet telolet…. Tapi nggak langsung ke TKP ding, kami diajakin makan soto dulu di seberang JEC. Sotonya enak, gratis pula, dibayarin Mas Pemred kita, makasih Mas, kapan-kapan lagi yaa… *ngarep* Setelah tenaga terisi, barulah kami menuju ke tujuan yang sesungguhnya. Hal pertama yang kami lakukan? Miriplah sama kebanyakan orang, foto-foto dulu, hahaha. Iya, walaupun usia kami sudah jauh di atas batas “remaja”, kami masih berjiwa muda, kok. Merdeka! Puas foto-foto dan mungkin juga kami udah ngerasa malu (karena cuma kami yang asyik foto-foto di sana) masuklah kami. Liat-liat buku, baca-baca, pengen ini itu tapi nggak jadi beli, dan ikut diskusi bersama beberapa penulis kece Indonesia. Yang saya paling inget, satu-satunya penulis perempuan yang waktu itu hadir, namanya Mbak Okky. Kenapa bisa paling inget sama Mbak Okky? Soalnya tiap ngeliat beliau kayak ngeliat Mbak Atiqah Hasiholan. Apanya yang mirip? Saya juga nggak tahu, pokoknya mirip gitu aja. Gayanya kayaknya, raut mukanya juga. Oh iya, 2 penulis lainnya namanya Mas Mahfud dan Pak Hernowo, barusan saya dikasih tahu sama Mbak Editor. Ketahuan ya, kemarin saya nggak dengerin diskusinya??

Dengerin sebenernya, serius. Tapi, memang konsentrasi saya terganggu. Lha, sebentar-sebentar ada pengumuman yang suaranya kenceng bangett-ngett dari lapak sebelah–jadi selain acara ini, di samping, di gedung yang sama, juga ada acara pameran komputer kalau nggak salah–yang ngasih tahu tentang mau ada pemadaman listrik, ngucapin selamat datang, ngingetin hati-hati jaga barang bawaan, sampai ngingetin ada banyak stan makanan di sana, disebutin pula ada apa aja. Yang terakhir ini yang sukses bikin konsentrasi saya pecah berkeping-keping, hiks.

img-20170214-wa0002
Kenapa di foto ini saya nggak keliatan? Biar nggak ketauan kalau makanku banyak. :p

Jam 3 lewat sedikit kami memutuskan untuk kembali ke kantor. Di jalan kami diingetin lagi sama Mas Pemred buat nulis tentang apa aja yang kita dapetin di acara “MocoSik” tadi. Yup, sebelum berangkat memang kita udah diwanti-wanti buat nulis sesuatu kalau nanti ke JEC. Mau dimasukin ke blog Javalitera, katanya. Itu bagian dari kerjaan. Bukankah kerja di sebuah kantor penerbit buku bukan hanya tentang menerima naskah, merombak, dan mengirim ke distributor untuk diteruskan ke toko buku? Kegiatan kayak gitu tadi juga penting lho, cmiiiwwiiwww *pasang emot senyum*

Nulis? Buat temen-temen di ruangan ini mungkin hal yang gampang. Ya iyalah, kan sebagian tim Javalitera juga penulis-penulis kece. Nggak percaya? Bisa dicek kok buku-buku mereka di toko buku kesayangan Anda (Udah tak bantuin promosi ya Mas, Mbak, jangan lupa persenan besok pas akhir bulan). Tapi saya?? Mau nulis apa bingung. Dulu sempet sih hobi nulis pas SMP, pun nulis di buku harian yang isinya gitulah. Tahu sendiri kan curhatan anak sekolah yang udah mulai gede? Kalau nggak bahagia karena bisa ngeliat si dia, cerita tentang temen-temen di sekolah, pasti galau segalau-galaunya. Nah, daripada saya bingung kelamaan mending saya juga nulis catatan harian kayak zaman SMP dulu. Masih bisalah ternyata dikit-dikit, masih ada bakat alay. Buktinya tulisan ini jadi, haha. Padahal yang dimaksud Mas Pemred buat nulis itu, nulis tentang apa aja ilmu yang kita dapetin selama acara di JEC kemarin. Kalau mau tahu bagian itu, nanti baca aja ya tulisan teman-teman saya yang lain. Anggap saja saya nulis behind the scene- nya.

Alhamdulillah, selesai juga tulisan ini, ya Allah. Apa pun hasilnya yang penting saya udah usaha dan nyoba buat nulis ya. Walaupun hasilnya jauh banget dari yang dimaksud Mas Pemred (beneran, ini saya ngerasa nostalgia zaman SD, nulis kegiatan sehari-hariku di rumah. Yang cerita dari bangun tidur sampai tidur lagi kayak gitu). Seperti salah satu quote yang saya baca di pameran kemarin, dari Pak Kuntowijoyo, salah satu sastrawan Indonesia. Begini kalimatnya, “Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu Menulis, Menulis, Menulis”. Jadi, sudah ya teman-teman, tugas menulis tentang kegiatan Selasa 14 Februari 2017 saya akhiri dengan sangat lega dan bahagia. Eh satu lagi, kenapa tulisan ini saya beri judul “Ker-Ja-Lan-Jalan Javalitera”? Karena saya merasa kegiatan kita kemarin itu semacam kerja sambil jalan-jalan. Dan kenapa saya nggak pernah sebut nama? Nggak papa sih, sengaja. Kalau mau kenal cari tahu sendiri, main ke ruangan Javalitera juga boleh, jangan lupa bawa martabak telor. :p

LOWONGAN LAYOUTER

Penerbit Javalitera membuka lowongan untuk posisi layouter. Dengan kualifikasi:

  1. Mahir mengoperasikan Adobe Indesign Cs6.
  2. Dinamis, kreatif, teliti
  3. Akrab dengan program pengolahan gambar/foto
  4. Bisa program Mathtype
  5. Cinta buku

 

Kirimkan surat lamaran, CV, dan contoh karya hasil layoutan ke:

Redaksi Javalitera

Jalan Waringin No. 126

Ringinsari RT. 02/RW. 49

Maguwoharjo, Depok, Sleman

Yogyakarta. 55282.

 

Atau via email ke: ipang.javalitera@gmail.com

Dengan subject: Lamaran Layouter

 

Musim yang Sumuk

Good afternoon! *nongol dari balik monitor*

Gimana kabarnya semua? Maaf yaa, Mimin lama nggak nongol di blog ini. Sekalinya nongol, sudah ganti tahun saja. 😦 Baiklah, postingan pertama di tahun 2016 ini, Mimin dapat curhat colongan dari Mas Layoter Rio Pangestu tentang cuaca yang sedang hooottt beberapa bulan belakangan ini. Langsung simak aja yuk! 🙂

 

panas
Pic: http://marospangkep.com

Huuhh… haduhhh…

Tidak betah rasanya. Entah kenapa. Bukan masalah pakaian yang ketat seperti anak alay atau kegedean seperti anak hip hop. Tapi memang tidak betah saja dengan hal seperti ini. Tidak cocok paling. Mungkin juga tidak terbiasa. Atau kurang adaptasi. Ah… paling hanya kurang nyaman saja. Ini cuma cuaca panas saja yang menerpa Jogja. Sudah beberapa minggu ini tepat pada tanggal 7 januari 2016 kota Jogja terkena yang namanya musim Sumuk.

Cuaca di Jogja memang tidak bisa dikontrol panasnya. Mulai dari bangun pagi hingga datangnya senja. Matahari seakan terus menyapa kota Jogja dengan senangnya, sampai-sampai matahari tidak mau tenggelam untuk berganti tempat. Pagi hari saja sinar mentari sudah datang saja. Saking semangatnya mentari menyinari Jogja, pada pukul 07.15 WIB saja sudah seperti jam makan siang. Wah sekali mentari ini. Tidak sampai di situ, sekitar pukul 12 siang, sekarang mentari mengeluarkan semburan panas maksimalnya. Sangat wah sekali mentari di minggu ini.

Sesampainya di penghujung hari, kali ini mentari masih saja belum loyo untuk berhenti memberikan sapaannya. Kali ini mentari menyapa Jogja dan masyarakatnya dengan cara memunculkan warna jingga kekuning-kuningan atau kuning keoranyean, mungkin merah temaramnya, atau mungkin ungu kemerah-merahan. Huhh… apalah warnanya yang terpenting memesona untuk dilihat.

Memang mentari itu menyebabkan sumuk yang tidak tertolong oleh AC di ruang terbuka. Bahkan, kipas angin dengan kecepatan yang mencapai angka satu. Memang mentari tidak bisa dikalahkan. Tapi di balik kekuatan sapaan panasnya, ada sebuah sapaan memesona di senja hari yang diciptakan oleh mentari. Terima kasih mentari. Be your self.

[Cerpen] Masih Saja Seperti Itu

Pic: www.husain.my.id
Pic: http://www.husain.my.id

Oleh:

“Nampaknya masih seperti itu saja ya? Atau masih seperti kemarin? Atau kemarinnya? Atau juga minggu kemarin? Atau… bulan kemarin? Atau tahun kemarin? Mungkin juga tidak berubah? Ah, ini tidak bakal berubah pastinya.”

“Memang apa yang terjadi padamu, Teman?”

“Ah, kamu jangan membuatku bercerita panjang lebar seperti masalahku kemarin, Jon.”

“Tak apalah, Ron. Aku sudah terbiasa dengan cerita panjang yang runtut itu. Memang apa yang terjadi, Ron?”

“Sebenarnya aku tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun, Jon. Sudahlah, tak usah kuceritakan padamu. Ini hanya buang-buang waktu.”

“Benar begitu, Ron?”

“Ya. Lagi pula siang hari ini cerah sekali. Ditambah dengan suasana kafe Mak Rum yang sejuk seperti biasa, kita mengobrol dan memesan kopi bersama. Sama seperti dulu ya, Jon? Tidak ada yang berubah.”

“Kau bebicara apa lagi sekarang, Ron? Aku makin tidak bisa mengerti jalan pikiranmu sekarang.”

“Kau tidak merasakannya, Jon. Apa kau tidak peka dengan lingkunganmu?”

“Maksudmu?” Bertanya penasaran sambil mengernyitkan dahi.

“Seperti ini, Jon. Apa kau menyadari artinya perubahan?” Ron balik bertanya.

“Ya, aku mengerti, Ron. Sebuah keadaan yang tidak seperti biasa bukan?”

“Bisa dibilang seperti itu.”

“Lalu apa yang kamu rasakan, Ron? Apakah tidak ada yang berubah?” tanya Jon makin penasaran dengan jalan pikiran Ron.

“Ya, betul sekali. Terkadang. Ah, bukan terkadang, malah sering aku rasakan. Suasana yang terjadi tidak ada perubahan sampai sekarang, Jon. Mulai dari kehidupan masyarakat di negara ini yang begitu-begitu saja, sampai pemerintah kita yang begitu-begitu saja menanggapi penyakit masyarakat yang sudah megap-megap mencari asap untuk dapurnya,” jawab Ron panjang.

“Haduuhhh… Ron, kau terlalu memikirkan hal tidak bisa kau tanggung sendiri. Itu hanya membuatmu pusing dan tidak ada penyelesaian, Ron. Percuma memikirkan nasib negara ini.”

“Hei, Jon. Jangan berbicara seperti itu. Kau tidak tahu apa yang masyarakat rasakan dengan megap-megap mencari asap di dapurnya.”

“Aku tidak peduli dengan itu, Ron. Lebih penting untuk memikirkan diriku agar sehat. Toh kita akan sama-sama mati akhirnya. Sudahlah, Ron, itu tidak penting.”

“Jon, kau memang tidak mengerti artinya perubahan ya?”

“Haha… sekarang yang harusnya bilang perubahan itu aku, Ron. Ubahlah jalan pikiran kolotmu itu. Manusia modern tidak akan berpikir sepertimu di masa seperti ini. Sudahlah.”

Ron terdiam setelah mendengar kalimat panjang dari Jon. Mata Ron yang hampir menangis dan gemeretak bibirnya berkata pendek.

“Jon….”

“Iya, Ron….”

“KAU BINATANG, JON!”

***

Siang hari yang cerah dengan embusan angin menyentuh kulit. Suasana di kafe Mak Rum masih sama, dan jalan pikiran mereka pun masih sama.

Sumpah Pemuda Vs Vickynisasi dan Syahrini

Pic: smeaker.com
Pic: smeaker.com

Sebelumnya mari kita mengingat kembali bahwasanya pada tanggal 28 Oktober 1928, atau sekitar 87 tahun yang lalu, perwakilan-perwakilan daerah dari berbagai latar belakang dan golongan yang berbeda berkumpul di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, untuk menggelar sebuah rapat yang disebut sebagai Kongres Pemuda II. Dalam kongres tersebut dirumuskan sebuah gagasan tentang cita-cita akan lahirnya “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”, yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah ikrar yang hingga kini kita kenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Adapun bunyi ikrar tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Butir-butir isi Sumpah Pemuda tersebut disusun bukan tanpa alasan. Selain sebagai ikrar untuk menegaskan cita-cita kemerdekaan Indonesia waktu itu, harapannya Sumpah Pemuda juga dapat menjadi spirit yang senantiasa terpatri dalam diri para pemuda sejak ikrar tersebut mulai dirumuskan hingga saat ini.

Butir-butir Sumpah Pemuda juga hendaknya dapat dijadikan sebagai pemersatu seluruh rakyat Indonesia. Sebab meskipun kita berasal dari daerah dan suku-suku yang berbeda, namun sejatinya kita bertumpah darah dan berbangsa yang satu, yaitu Indonesia. Pun dengan bahasa. Meskipun kita memiliki bahasa daerah masing-masing, kita tak perlu khawatir tak dapat berkomunikasi dengan saudara-saudara kita yang lain. Sebab kita memiliki bahasa nasional yang satu, yaitu bahasa Indonesia.

Namun, yang terjadi kini mungkin tak seperti harapan para pemuda perwakilan tiap daerah yang 87 tahun lalu berkumpul dalam Kongres Pemuda II. Butir-butir Sumpah Pemuda yang sejatinya menjadi spirit untuk mempersatukan bangsa Indonesia, seolah kehilangan fungsinya. Terbukti, masih banyak pertikaian yang dipicu oleh SARA. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, butir ketiga tentang bahasa persatuan Indonesia, kini justru disepelekan oleh para pemuda Indonesia.

Tentu belum hilang dari ingatan kita bahasa aneh yang “dipopulerkan” oleh Vicky Prasetyo yang sempat menjadi bahan pergunjingan, namun kemudian justru banyak yang gemar menggunakannya (meskipun tetap dengan maksud bercanda). Bahkan, sudah ada istilah untuk gaya bahasa tersebut, ‘vickynisasi’. Ada juga gaya bahasa berlebihan Syahrini, yang memodifikasi dan mencampuradukkan bahasa Indonesia sedemikian rupa dengan semaunya. Dan banyak lagi bahasa slang remaja yang memperlakukan bahasa Indonesia dengan semena-mena.

Tahun 1928, para pemuda telah berikrar akan menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Akan tetapi, kini para pemuda justru tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Berbahasa dengan baik dan benar bukan berarti lantas berbicara dengan bahasa yang formal dan baku. Berbahasa dengan benar adalah berbahasa sesuai dengan kaidah yang berlaku (tidak memperlakukan bahasa dengan semaunya). Sedangkan, berbahasa dengan baik adalah mampu berbahasa sesuai konteks dengan siapa dan di mana kita berbicara.

Dalam momentum peringatan hari Sumpah Pemuda ini, baiknya mari kita bangkitkan kembali spirit itu. Spirit bahwa kita bertumpah darah dan berbangsa yang satu, serta selalu menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

#Comot dari blognya mbak editor >> Tristanti

Blog: Bukan Diary Biasa

Pic: plus.google.com
Pic: plus.google.com

 

Selamat Hari Blogger Nasional 🙂

Kata Pramoedya:

“Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

(Pramoedya Ananta Toer)

Dulu sebelum kenal internet dan belum mengenal yang namanya blog, saya menuliskan kegiatan sehari-hari ke dalam buku yang dinamakan diary. Total ada 10 buku diary yang saya punya sejak saya duduk di kelas 5 SD sampai sekitar tahun 2007. What?? Iya 2007. Itu kan udah ada internet dan udah ada blog? Iya siih… tapi waktu itu saya lebih suka menuliskannya di atas kertas. Tapi alasan utamanya bukan itu. Karena waktu itu, laptop masih menjadi barang mewah dan kalau tiap hari harus ke warnet ya sayang duitnya heu…heu… 😀

Akhirnya saya bikin blog di tahun… entah tahun berapa saya lupa. Blog pertama yang saya punya multiply.com. Dan itu cuma sekadar punya punya saja, jarang saya tulis. Di tahun 2012, multiply menutup lapaknya untuk para blogger dan mengkhususkannya untuk para penjual online. Tentu saja saya sedih karena harus memindahkan tulisan-tulisan saya (yang tidak banyak) ke blog lain. Akhirnya saya membuat blog baru di blogspot ini. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih setia untuk mengisinya meski tidak rutin 🙂

Isi blog saya ini masih sekadar curhat yang tidak penting. Sebenarnya ingin banget posting tulisan-tulisan sastra saya, tapi saya masih takut kalau ada yang memplagiat tulisan saya. Tentang hal itu saya sudah menuliskannya juga di blog. Yaa… mungkin ke depannya saya akan menambah satu label lagi di blog saya. Doakan saya ada waktu luang yah hehe…. Karena blog bukan sekadar diary, maka haruslah memberi manfaat dan pencerahan bagi blogger lain.

 

#Comot dari blognya mbak editor, Eista

Blog di WordPress.com.

Atas ↑