Cari

Redaksi Javalitera

Gudangnya Literatur Inspiratif

Kategori

Ruang Redaksi

[Cerpen] Perempuan Itu, Kartini

Pic: babytherock.blogspot.com
Pic: babytherock.blogspot.com

Oleh: Eista Swaesti

Perempuan itu kini berbaring tak berdaya di antara selang-selang oksigen dan infus. Jiwanya berdiri bingung di antara kematian dan kehidupan. Hatinya termenung menimbang-nimbang, sudah cukupkah perjalanannya di dunia atau ia harus berjuang lebih lama di hidup yang tak pernah ia keluhkan. Perempuan itu. Meski lemah, matanya menyiratkan kehidupan. Memberi isyarat bahwa perjalanannya belum cukup menuntaskan kebahagiaan. Terutama bagi ketiga anaknya, ketiga buah hati yang ia besarkan dengan cucuran peluh keikhlasan.

Malam itu, ia pulang membawa keringat dingin di sekujur tubuhnya. Sepeda yang setiap hari menemaninya berjualan jenang candil, disandarkannya di tembok depan rumah dengan serampangan. Diketuknya pintu, lemas. Pintu terbuka dan ia telah terkulai di pelukan anaknya. Lalu suara sirene membelah keheningan malam. Satu per satu, tangis pun terpecah.

*

Kusempatkan menjenguk dan menyuntikkan sedikit senyum dan semangat. Masih terlihat guratan-guratan sakit bekas operasi pada perutnya ketika kucium tangannya dan kubisikkan kesembuhan pada telinganya. Air mataku hampir jatuh dibuatnya. Kuputuskan keluar dari kamar dan terduduk di koridor rumah sakit.

Perempuan itu, yang selalu kulihat tiap sore menjajakan dagangannya melewati kampung-kampung, yang selalu kulihat tersenyum ramah saat melayani pembeli, yang selalu bercerita tentang hidup padaku (karena aku termasuk langganan tetapnya), dan bercerita pula bagaimana ia harus berjuang sendiri mencari penghidupan yang layak bagi ketiga buah hatinya.

Dulu, perempuan itu ditinggalkan suaminya. Laki-laki yang diharapnya menjadi penopang yang kuat bagi keluarga kecilnya, laki-laki yang diharapkannya bisa menjadi penyulut semangat ketika tiba-tiba ia menyerah pada hidup. Namun, semuanya hanya tinggal harap. Laki-laki itu lebih memilih tinggal dengan majikannya yang sekarang sudah menjadi istrinya di negeri seberang.  Lalu, tinggallah ia sendiri.

Hidupnya drastis berubah. Dengan sisa uang peninggalan suaminya, ia berusaha untuk bangkit. Dengan keahliannya membuat jenang candil, ia memulai hidupnya di jalan-jalan menjajakan jenang. Perjalanan yang ditempuhnya tak hanya satu dua kilo, tetapi berkilo-kilo ia jalani dengan menggenjot sepeda tuanya. Tak jarang jenang yang dibawanya laku. Pelanggannya pun sering berganti-ganti. Ia berjualan di sore hari dan pulang malam. Pagi hari, ia menjadi buruh cuci di tetangga yang tak jauh dari rumahnya. Di rumah, ia juga berusaha untuk menjadi ibu sekaligus bapak bagi anak-anaknya. Sungguh perempuan yang tak kenal kata lelah. Perempuan yang memiliki hati dan raga yang tegar.

Namun sekarang, yang kulihat di mataku, raga itu mulai melemah karena kista berhasil menggerogoti sebagian organ tubuhnya. Sakit yang didera selama ini, tak pernah dirasakannya. Ia berusaha menyembuhkannya dengan semangat dan tekadnya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.  Sekarang, raga itu telah mati. Ia tak mampu lagi melawan sakitnya, meski ia telah berusaha. Sang Kuasa telah meminta rohnya.

Aku menitikkan air mata di pusaranya. Ia banyak memberikan pelajaran bagiku. Bagi kita, perempuan. Menjadi perempuan, bukan berarti menjadi kaum yang terpinggir atau terbelakang. Justru perempuanlah yang seharusnya bisa menjadi pemenang dari laki-laki karena sifat kegigihan dan kesabarannya. Tak gampang tumbang oleh godaan dan tak gampang mundur dalam bertempur. Dan bagiku, ia adalah Kartini. Juga bagi ketiga buah hati yang sangat dicintainya.

***

#Ditulis oleh Mbak Editor Javalitera, Eista Swaesti 😀

Iklan

Office: 50% Kerja, 50% Main

Abaikan posenya :D
Abaikan posenya 😀

Teman saya pernah bilang bahwa kantor baginya adalah 20% kerja dan 80% drama. Lalu, saya jadi teringat pada sebuah nasihat yang cukup terkenal ini:

“Pilihlah pekerjaan sesuai dengan bidang yang kamu cintai, maka kamu tidak akan merasa bekerja untuk selamanya.”

And I found that at this office.

wpid-img-20150919-wa0003

Pekerjaan yang mengasyikkan, teman-teman yang menyenangkan. Plus, saya banyak belajar di sini. Di suatu waktu kami serius membahas desain cover buku, di waktu yang lain kami menertawakan Aa’ burjo sebelah kantor yang lucu. Di suatu saat kami diskusi tentang info-info terkini, di saat yang lain kami berbagi kue serabi. Saat ini, kantor bagi saya adalah 50% kerja dan 50% main.

Thank’s to Javalitera. 🙂

Karena buku telah mempertemukan kita
Karena buku telah mempertemukan kita

 

*Comot dari blognya Kak Tristanti, editor Javalitera. 😀

[Cerpen] Cocok Dibaca Siang Hari

Pic: mujahidah18.files.wordpress.com
Pic: mujahidah18.files.wordpress.com

Oleh: Emirfan

Nama beliau Sukardi. Usia beliau hampir tujuh puluh tahun. Aku baru tahu nama dan umur beliau dari berita harian lokal tadi pagi. Jasadnya ditemukan warga sekitar pukul empat Subuh. Diberitakan bahwa beliau tampaknya terjatuh telungkup. Muka beliau penuh darah dan luka. Banyak yang mengenal lelaki tuna netra ini, termasuk aku.

Aku pertama kali melihatnya lima tahun yang lalu. Saat aku pertama kali datang untuk sekolah di kota ini. Setahuku, tiap malam ia berjalan dengan tongkat yang dihiasi kaleng, sehingga tongkat itu akan berbunyi saat membantunya berjalan. Aku sampai hafal bunyi kalengnya. Beliau satu-satunya di kota ini. Bapak tua ini selalu memakai baju gelap. Seperti baju silat. Celana panjangnya sudah terlalu pendek. Warnanya yang kelam juga sudah pudar. Yang tidak ketinggalan adalah kopiah hitamnya.

Anehnya beliau dapat berjalan dapat sampai jauh. Aku sering melihat beliau di jalan yang berbeda dan itu sangat jauh, menurutku. Aku begitu iba ketika melihatnya. Dengan mata tertutup karena buta, beliau sendirian melangkah mengelilingi kota ini. Entah apa yang beliau cari. Uang? Aku tidak pernah menangkapnya meminta atau diberi uang. Lalu apa? Aku sempat ingin mencari tahu. Namun aku bukan pengintai yang baik. Aku hanya melihat bapak itu dari atas sepeda motorku yang butut. Lalu motorku terlalu cepat juga dibanding jalannya yang lambat. Akhirnya aku pun meninggalkan bapak itu. Ya, seperti itu sajalah sepengetahuanku. Aku belum pernah melakukan pencarian informasi selain hal tersebut.

Suatu malam hatiku begitu gundah. Aku sangat merindukan kekasihku yang sudah satu bulan meninggalkanku. Aku baru tahu ternyata aku benar-benar mencintainya. Dini hari itu aku pergi keluar dengan motor tuaku. Aku tak tahu mau pergi ke mana malam itu. Dua jam berlalu, aku masih di atas motorku, berkeliling kota. Aku terus membayangkan kekasihku yang jauh di kota lain. Kata pujangga, aku benar-benar hampa tanpanya. Ternyata semakin lama semakin buyar saja konsentrasiku. Rasanyabegitu gelap malam itu. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku tidak merasa mengendarai sepeda motor, seperti sedang tidur saja.

Di Jalan Jenderal Soedirman, aku menabrak bapak tua buta yang tadi aku ceritakan. Ya. Pak Sukardi. Kulihat kanan-kiri. Tidak ada satu orang pun di sana. Kutancap gas. Aku bergegas pulang.

Esok paginya, saat kubaca koran di kantor. Mataku menangkap sebuah headline, “Orang Buta Ditemukan Tewas”. Pada subheadline tertulis “Diduga Terjatuh Karena Kelaparan”.

Siang ini aku menuliskan ceritanya. Tak ada yang tahu bahwa aku yang menabrak orang buta itu, selain aku, Tuhan, dan Anda pembaca cerita pendek yang cuma rekaan ini.

Yogyakarta, 2 September 2008

#Eh, cerpen ini ditulis oleh Pimred-nya Javalitera loh. Kalau mau kenalan sama beliau, mampir aja ke sini nih >> Emirfan 😀

Cerita dari Pembaca Pertama Novel “Pocong Bunting”

1Ngeliat judulnya aja udah bikin aku garuk-garuk kepala. Heran, kok bisa ya pocong bunting? Kok bisa sih pocong ngebuntingin pocong lain, sedangkan tangannya aja sedakep mana bisa dia buka lawonnya. Lagipula bagaimana cara ngelahirinnya nanti? Bayinya nanti bentuknya kayak apa yaa? Seribu satu pertanyaan berlomba-lomba nyembul di kepala, tanda minta jawaban. Sampai akhirnya aku disodorin novel Pocong Bunting ini. Iya, ini beneran novel. Dan novel ini beneran punya alur cerita yang jelas. Aku punya buku bacaan bergenre sama, tapi isinya cuma lelucon penulisnya doang. Sama lucunya, tapi alur ceritanya lompat-lompat kaya pocong. Apa emang sengaja dibikin begitu yaa biar menjiwai karakter yang digambarkan. Halah mulai ngaco nih….

Selama aku baca novel ini, berbagai mimik muka dari takut, sedih, nelangsa, galau, ceria, ketawa, dan bahasa tubuh dari tepok jidat, garuk-garuk kepala, mukul guling, sampai kebelet pipis saking nanggungnya karena lagi seru-serunya baca bisa berkolaborasi jadi satu. Kalau boleh jujur sih, alasan terbesar aku nahan kencing karena takut. Hah, takut??? Pasti sekarang kalian deh yang gantian garuk-garuk kepala. Gimana nggak takut coba, walaupun pocong di novel ini nggak bisa divisualisasikan lewat gambar, tapi pendeskripsiannya tuh hemmm… jempol banget. Tampang pocong yang gosong, mata merah, berdarah-darah, belepotan tanah, belatungan, sampai bau bacinnya segala ditulis. Berasa penulisnya udah akrab banget sama dunia gaib perpocongan. Eits… jangan salah, walaupun tampang mereka nggak ada kece-kecenya, tapi tuh pocong semuanya pada rumpi, rempong, ababil, agak lupita-an, dan otaknya agak lambreta ambrojini. Haaahhh, pasti semua pada penasaran, kan? Aku ceritain sedikit deh, nggak tahan nih mulut mau ngerumpi.

Permasalahan dimulai sejak dua sejoli Romano dan Jumiet memutuskan untuk bunuh diri nenggak AO kedaluwarsa karena percintaan mereka nggak disetujuin oleh kedua belah pihak, karena abangnya Jumiet dan babenya Romano musuh bebuyutan. Mereka berdua tewas, dan semua keluarga pun menyesalkan kejadian ini. Akhirnya mereka dikuburkan dengan liang lahat yang berdampingan, bakalan jadi satu liang sebab makam ambrol dan belum diurug karena warga udah pada lari saat liat penampakan pocong lain. Akhirnya percintaan dan pernikahan mereka berlanjut di alam gaib. Sampai akhirnya Jumiet bunting, nggak ngerti tuh gimana bisa begitu. Tapi sayang kebahagiaan mereka direnggut paksa oleh Bos Jujum, si bos KomPoc (komunitas pocong), dia maksa Romano ngawinin dia juga biar hamil kaya Jumiet. Herannya, ada lagi salah kawin si pocong sama si Genderuwo. Permusuhan antara geng pocong sama geng genderuwo. Haduh, macem-macem deh. Baca sendiri deh novelnya, biar nggak penasaran. Kalau aku tulis di sini semua kepanjangannn, bukan sinopsis malah jadi novel juga entar.

Oke, selamat membaca. Dan rasakan andrenalin kalian membuncah, meluap-luap, melebur, melayang, selama membaca novel Pocong Bunting ini.

Desya, First Reader

Cerita Mince: “Apa itu Naskah Fiksi dan Nonfiksi?” — (Bagian 1)

Siang ini, Mince berhasil mengendap-endap ke ruang redaksi. Bukan tanpa maksud, Mince ke sini sebab ada misi khusus untuk menemui Mbak Editor. Pasalnya, kemarin Mince habis ditanya oleh salah seorang followers @javalitera. Begini pertanyaannya:

“Mince, apa, sih, bedanya naskah fiksi dan nonfiksi?”

Nah, loh! Mince susah deh jawabnya. Setahu Mince, fiksi itu ya novel, cerpen, dan sejenisnya. Sedangkan, nonfiksi itu catatan harian Mince. Jiaah… abaikan!

Daripada Mince menjerumuskan orang lain dengan jawaban ngawur Mince itu, mending Mince tanya ke Mbak Editor saja deh. Dan inilah hasil perbincangan kami.

1. Hay, Mbak Editor. Lagi ngedit naskah apa nih? #BasaBasiMince

Matematika.

2. Oo… pantes dari tadi kayak bau hangus. Hihihi…

Hem. Udah, langsung saja, Ce. Ada perlu apa?

Ekspresi Mbak Editor kayak gini via http://srirahayucatatan.blogspot.com/
Ekspresi Mbak Editor kayak gini via http://srirahayucatatan.blogspot.com/

3. Wew… Mbak Editor gitu amat sih. Kebanyakan baca rumus pasti yaa… ups! Iyaaa… iya, maaf. Mince ke sini mau tanya-tanya nih. Mbak Editor kan kerjaannya ngurusi naskah terus tuh, emang definisi dari naskah itu sendiri apaan sih?

Kalau menurut Library and Information Science, naskah itu ya tulisan tangan yang menjadi arsip atau koleksi perpustakaan, misalnya naskah-naskah sastra lama dan lain-lain. Namun dalam konteks lain, penggunaan istilah “naskah” pada masa kini tidak semata untuk sesuatu yang ditulis tangan. Dalam penerbitan buku misalnya, naskah merupakan hasil karangan seseorang yang belum diterbitkan. Dalam perfilman, naskah berarti teks/skenario yang digunakan oleh para pemain drama dalam pembuatan film atau pertunjukan. Dalam istilah berita, naskah adalah laporan mengenai suatu hal atau peristiwa yang ditulis oleh seorang wartawan untuk dimuat di media massa atau elektronik.

4. Ha? Sudah, segitu saja?

Iya, kalau kamu tanya apa itu naskah maka jawabannya ya cuma itu. Tapi kalau mau dijabarkan lagi, sebenarnya karangan itu bisa dibedakan menjadi beberapa jenis. Jika dilihat dari bentuknya, dapat dibedakan menjadi narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Sedangkan bila dilihat dari sifatnya, maka akan ada karangan fiksi, nonfiksi, puisi, dan naskah drama.

5. Nah, itu dia… itu dia yang Mince mau tanyakan. Apa yang dimaksud dengan naskah nonfiksi dan fiksi itu?

Kenapa nggak to the point dari tadi, Ce? -_-

6. Ya… ya… terserah Mbak Editor sajalah.

Oke, kita mulai dari nonfiksi. Nonfiksi adalah sebuah karangan yang disampaikan secara faktual dan disertai bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Karangan nonfiksi dapat berupa sebuah karya ilmiah maupun nonilmiah, dengan menggunakan bahasa yang denotatif. Ilmiah maksudnya bukan lantas menggunakan bahasa-bahasa sok intelek seperti “statusisasi kemakmuran”, “labil ekonomi”, dan “konspirasi hati” ya. Hahaha 😀

Duh, maafkan jadi melantur. Abaikan yang tadi. Intinya, dalam karangan nonfiksi, bahasa yang digunakan harus bersifat lugas, jelas, dan juga harus memperhatikan kaidah kebahasaan yang ada. Dalam karangan nonfiksi, aspek estetika bukan sesuatu yang dianggap penting, yang lebih penting adalah kejelasan maknanya. Jadi, nggak usah pakai bahasa yang lebay dan mengharu biru, justru gunakanlah kalimat-kalimat yang efektif dan tidak ambigu sehingga pesannya dapat mudah tersampaikan kepada pembaca.

7. Kalau Mince bikin tulisan yang berupa tips-tips gitu, termasuk dalam karangan nonfiksi nggak, tuh?

Karena sifatnya faktual, maka artikel yang berisi tips-tips seperti itu termasuk ke dalam karangan nonfiksi. Kecuali kalau kamu membuat tips cara mengendarai sapu terbang milik Harry Potter. 😀

8. Haha… bisa saja Mbak Editor ini. Terus, contoh karangan nonfiksi lainnya apa?

Beberapa contoh karangan nonfiksi lainnya antara lain laporan penelitian, biografi, artikel, esai, ensiklopedia, buku-buku referensi, dan lain-lain. Buku-buku referensi itu juga bisa banyak sekali lho jenisnya, cari sendiri ya. ^_^v

9. Oke, sip, paham sekarang. Ya sudah, lanjut saja ke fiksi. Hehe…

Fiksi adalah bentuk karangan yang isinya berorientasi pada imajinasi. Berbeda dengan nonfiksi yang tidak mengutamakan estetika dan menggunakan bahasa yang jelas dan lugas, dalam fiksi justru karangan dikemas dengan bahasa yang estetis atau indah, bahkan kadang menggunakan simbol-simbol atau metafora. Fiksi juga menuntut adanya daya imajinasi yang tinggi, tak seperti nonfiksi yang terbatas pada fakta dan aturan-aturan tertentu.

Sebuah karangan fiksi harus memiliki efek atau kesan tertentu dalam batin dan pikiran pembaca, sehingga pembaca akan tertarik untuk melanjutkan membaca. Kesan-kesan yang ditimbulkan tersebut dapat berupa rasa gembira, sedih, tragis, terharu, terinspirasi, terenyuh, takut, dan lain-lain.

Jadi, jika ingin menulis fiksi maka perbanyaklah perbendaharaan kosakata serta latihlah kreativitas untuk mendramatisasi sebuah adegan dengan kata-kata. Yang termasuk dalam karya fiksi antara lain adalah cerpen, novel, roman, novelete, dan cerita rekaan lainnya.

10. Mbak Editor bilang fiksi itu cerita rekaan yang berorientasi pada imajinasi. Lantas kalau ada cerpen atau novel yang terinspirasi dari kisah nyata gimana tuh?

Oh, itu. Jadi begini, karya fiksi itu kan memiliki dua unsur pembangun, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang ada di dalam karya fiksi itu sendiri, meliputi tema, tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, alur, dan lain-lain. Sedangkan, unsur ekstrinsik adalah unsur di luar karya yang secara tidak langsung ikut memengaruhi karya itu sendiri.

Jadi ketika seorang pengarang terinspirasi dari kisah nyata untuk membuat sebuah cerita, maka cerita tersebut tetap disebut karya fiksi, sebab ada unsur-unsur instrinsik di dalamnya berupa tema, plot/alur cerita  tokoh, penokohan, sudut pandang, latar/setting, dan amanat yang merupakan hasil dari imajinasi pengarang itu sendiri. Masih tetap ada daya imajinasinya, kan?

11. Aeeh… bukan itu maksudnya…

Lha, jadi gimana maksud pertanyaanmu? Sudah terlanjur ngomong panjang lebar juga. 😦

12. Gini, lho. Kan ada tuh novel atau cerita pendek yang diangkat dari kisah nyata. Novelnya Andrea Hirata misalnya, yang Tetralogi Laskar Pelangi. Bukan hanya terinspirasi, tapi tema, alur, dan bahkan nama-nama tokohnya kan juga sama tuh? Seperti menceritakan kembali pengalaman hidupnya. Kenapa itu disebut fiksi hayo?

Owalah, itu. Yah, walaupun ada unsur true story-nya, tapi novel itu tentu “bumbu penyedapnya” lebih banyak. Nanti pembaca juga bisa merasakan sendiri hal itu. Coba saja kamu baca buku biografi dan baca novel tersebut. Keduanya sama-sama menceritakan kisah hidup seseorang, tapi apa efek yang kamu dapat ketika membaca dua karya tersebut? Beda, kan?

Selain gaya bahasanya yang mengharu biru, dalam novel itu juga ada unsur dramatisasinya. Tetap ada daya imajinasi dari pengarangnya. Maka tetap disebut sebagai karya fiksi.

Lain halnya dengan biografi. Meskipun sama-sama menceritakan perjalanan hidup seseorang, saat membaca biografi tidak akan menimbulkan efek-efek tertentu bagi pembaca. Membuat kita terinspirasi, mungkin bisa jadi. Namun tak ada efek haru biru atau bahkan nangis bombay seperti ketika kita membaca novel. Sebab biografi hanya memaparkan fakta-fakta yang ada, tanpa adanya unsur dramatisasi dan imajinasi. Oleh sebab itulah dia disebut nonfiksi.

13. Hemm… oke, oke. Nah, tadi Mbak Editor menyebutkan unsur-unsur fiksi. Ada intrinsik, ada pula ekstrinsik. Bisa dijelaskan apa saja itu?

Bisa… bisa, apa sih yang nggak buat kamu. 🙂 Tapi besok saja ya, kamu kembali lagi ke sini. Saya mau kerja dulu, nih lihat deadline sudah berjejer rapi. 😦

14. Waduh! Baiklah kalau begitu, Mbak Editor. Terima kasih obrolannya.

Iya, sama-sama, Mince, yang kece. Hehe…

Setelah pamit sama Mbak Editor, akhirnya Mince melipir cantik dari ruang redaksi dan kembali gelar lapak di timeline @javalitera. Jangan khawatir, besok Mince akan coba mengendap-endap ke ruangan itu lagi, buat menagih janji Mbak Editor, huahaha… *ketawa evil*

Blog di WordPress.com.

Atas ↑